Baca Pleidoi, Eks Dirut ASDP Singgung Profesional yang Dikriminalisasi
6 November 2025 18:47 WIB
ยท
waktu baca 3 menitDiperbarui 1 Desember 2025 11:40 WIB

Baca Pleidoi, Eks Dirut ASDP Singgung Profesional yang Dikriminalisasi
"Nilai yang ditanamkan keluarga sejak saya kecil ternyata nilai profesional di dunia kerja berupa integritas, kompetensi, hingga akuntabilitas," kata Eks Dirut PT ASDP Ira Puspadewi.kumparanNEWS


Eks Direktur Utama (Dirut) PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Ira Puspadewi, membacakan nota pembelaannya atau pleidoi terkait kasus dugaan korupsi dalam proses akuisisi PT Jembatan Nusantara (JN), yang menjeratnya sebagai terdakwa.
Dalam kasus itu, Ira didakwa bersama dua mantan direksi PT ASDP lainnya, yakni Muhammad Yusuf Hadi dan Harry Muhammad Adhi Caksono. Mereka didakwa melakukan korupsi dan mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 1,253 triliun.
Dalam pleidoinya, Ira menyebut bahwa keluarganya selalu menanamkan nilai-nilai profesional di dunia kerja, seperti integritas, kompetensi, hingga akuntabilitas.
Ia menekankan, nilai itulah yang turut mengantarkan PT ASDP mampu bertransformasi melalui digitalisasi pelayanan dan proses bisnis.
"Nilai yang ditanamkan keluarga sejak saya kecil ternyata nilai profesional di dunia kerja berupa integritas, kompetensi, hingga akuntabilitas," ujar Ira dalam persidangan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (6/11).
"Nilai dan sikap profesional itu yang menjadi kunci keberhasilan transformasi ASDP yang ditopang melalui digitalisasi pelayanan dan proses bisnis. Dengan digitalisasi, kami pun bisa menaikkan remunerasi karyawan hingga 30-40 persen yang membuat potensi korupsi dapat sangat ditekan," jelas dia.
Dalam kesempatan itu, Ira pun menyinggung profesionalitas sebagai kunci kemajuan bangsa. Termasuk bekerja secara efektif dan efisien dengan menjunjung kebenaran dan keadilan.
"Kerja yang efektif dan efisien itulah kunci profesional, yaitu saat kita menjunjung kebenaran atau the truth dan keadilan atau fairness dengan mengedepankan hati nurani serta nalar atau akal sehat," tutur dia.
Namun, Ira menyayangkan bahwa hati nurani dan akal sehat justru sudah mati bagi sebagian orang. Ia pun menyinggung kriminalisasi yang dialami sejumlah profesional yang tidak memiliki relasi politik yang kuat.
"Tapi, hati nurani, akal sehat, kebenaran serta keadilan nampaknya sudah mati dalam sebagian orang. Demi kepentingan pribadi untuk berprestasi dan lainnya, mereka tega mengkriminalisasi siapa pun," ucap Ira.
"Profesional dengan karya besar tidak punya relasi politik kuat sebagai pelindung akan menjadi sasaran mudah untuk dibidik. Jauh dari prinsip agung in dubio pro reo (ketika ragu, putusan untuk terdakwa), nurani ciptaan Tuhan pun mereka tidak peduli," paparnya.
Ia menyebut, kriminalisasi kini dialaminya bersama dua eks rekannya di PT ASDP. Ira menilai, jaksa KPK mendakwa mereka dengan dakwaan yang tidak masuk nalar dan nurani.
"Ada yang tega merancang narasi seperti yang menjerat kami saat ini hingga lahir dakwaan yang tidak masuk nalar apalagi nurani. Kriminalisasi seperti ini telah mengecilkan hidup kami dalam 1,5 tahun terakhir, Yang Mulia," kata Ira.
Menurut Ira, praktik hukum seperti itu justru berpotensi menghambat kemajuan suatu bangsa, mulai dari iklim investasi yang tidak sehat hingga inovasi bagi bangsa yang dapat terhenti.
"Praktik hukum inilah yang menghambat Indonesia untuk menjadi bangsa maju. Sudah 80 tahun Indonesia merdeka seperti juga Korea, namun kemiskinan bahkan stunting pun masih menjadi persoalan besar bangsa kita," tutur dia.
"Dunia hukum tampaknya perlu merefleksi diri lagi untuk tidak mudah dimanfaatkan oleh sebagian kecil orang yang rela menikam sesama demi kepentingan jangka pendek pribadi," terangnya.
Untuk itu, lanjut Ira, para profesional di Indonesia mesti didorong untuk menghasilkan karya dan terobosan yang bermanfaat alih-alih dikriminalisasi melalui instrumen hukum.
"Para profesional yang benar perlu dilindungi dan didorong agar membuat terobosan-terobosan lagi. Hanya dengan cara itulah bangsa kita bisa maju melangkah untuk berkompetisi dan berkolaborasi dengan sehat dengan bangsa lain di dunia," pungkas dia.
