Iran kembali membingungkan

- Penulis, Paul Reynolds
- Peranan, Koresponden masalah internasional BBC
Pengumuman Iran yang akan terus melanjutkan program pengayaan uranium miliknya menambah kecurigaan atas tujuan utama negara itu, akan tetapi juga membuat bingung Amerika Serikat dan sekutunya.
Masih belum ada jawaban atas pertanyaan: Apakah Iran berniat membuat senjata nuklir masa depan?
Apakah negara itu hanya berniat mendapatkan pengetahuan untuk membuat senjata nuklir?
Apakah Iran hanya membangun reaktor nuklir untuk kepentingan damai sesuai dengan hak yang diatur Traktat Non-Proliferasi seperti yang dikatakannya?
Ataukan negara itu mempergunakan program nuklir sebagai propaganda pemerintah dan meningkatkan dampaknya secara internasional?
Seperti biasa dalam kasus menyangkut Iran, keputusan paling akhir ini meningkatkan sikap membangkang namun tidak menyebut akan mencapai tingkat uranium yang diperkaya sehingga bisa dibuat senjata.
Reaktor Medis
Iran mengatakan akan menaikkan tingkat pengayaan uranium pada tingkat yang tidak bisa digunakan sebagai senjata nuklir dan hanya akan digunakan untuk tujuan khusus.
Iran secara khusus akan memperkaya uranium ke tingkat 3,5%, tingkat yang diperlukan sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik tenaga nuklir dan kemudian menaikkan ke tingkat 20%, tetapi tidak ke tingkat 90% yang diperlukan untuk membuat bom nuklir.
Iran memang berhak melakukannya, meski harus diverifikasi oleh IAEA karena Iran berada dalam pengawasan meski tidak terlalu ketat.
Menurut Iran hasil produk program ini adalah bahan bakar untuk satu reaktor nuklir kecil yang memproduksi isotop medis.
Reaktor ini berdiri di Teheran sejak tahun 1968, dibuat oleh perusahaan Amerika, dan kekurangan bahan bakar yang saat ini diimpor dari Argentina.
Tahun lalu Iran diusulkan mengusulkan mendapat lebih banyak bahan bakar nuklir dari luar negeri akan tetapi masyarakat internasional mengajukan kesepakatan dimana uranium yang telah diperkaya di tingkat rendah millik Iran dibawa ke Rusia dan Perancis untuk diubah menjadi bahan bakar yang diperlukan dan dikembalikan ke Iran.
Meski sempat ada isyarat-isyarat menjanjikan, kesepakatan itu masih belum disetujui dan akan terbuang percuma jika Iran tetap melaksanakan reancana paling akhirnya itu.
Argumentasi
Dari kubu Iran: negara ini bisa mengatakan ada masalah dengan reaktor Teheran dan berulang kali menegaskan tidak akan membuat bom.
Proses pengayaan uranium ke tingkat 20% akan dilaksanakan di reaktor Natanz yang diawasi oleh IAEA.
Penentang: Iran masih melanggar keputusan Dewan Keamanan PBB yang menunda seluruh kegiatan pengayaan uranium dan menolak melakukan perundingan mengenai upaya jangka panjang yang bisa memastikan tujuan damai programnya.
Masih belum jelas bagaimana Iran mampu melakukan perubahan uranium tingkat 20% menjadi bahan bakar untuk reaktor Teheran karena saat ini hanya Perancis dan Argentina yang bisa melakukannya.
Perdebatan sanksi
Semua fakta-fakta itu membuat negara yang berunding dengan Iran - AS, Rusia, Cina, Inggris, Perancis dan Jerman - terpecah.
Amerika, Inggris, Perancis dan Jerman ingin menambah sanksi dan sanksi itu khusus pada sektor-sektor yang menyangkut kegiatan nuklir, namun Cina mengatakan tidak untuk saat ini sementara Rusia belum pasti.
Harapan yang muncul adalah akan tercapai satu kesepakatan sebelum pengkajian Traktat Non-Proliferasi nuklir pada bulan Mei.
Israel tampaknya saat ini siap menunggu proses diplomasi dan Amerika juga tidak terlalu tertarik untuk mengambil tindakan militer.
Kepala Staff Angkatan Bersenjata Amerika, Admiral Michael Mullen, baru-baru ini menegaskan ketidakstabilan di dunia akan mendorong Iran memperoleh senjata nuklir dan hal itu juga akan membuat Iran diserang.





























