Kenapa barat suka Dalai Lama

Bagi pemerintah Cina dan sebagian besar warga Dalai Lama dianggal sebagai pendorong kekerasan dan pembela masyarakat terbelakang yang brutal dan bersifat teokratis.
Namun bagi banyak politisi dan warga negara-negara barat, dia adalah pahlawan murah senyum, guru spiritual dan politik.
Dengan jubah berwarna mencorong dilengkapi dengan kacamata model kuno, Dalai Lama sudah beribu-ribu kali diambil fotonya. Bagi sebagian orang dia sejajar dengan tokoh internasional lain, Nelson Mandela.
Dia terkenal memiliki pendukung dari Hollywood seperti Richard Gere dan Steven Segal.
Mereka yang pernah bertemu dengan Dalai Lama menggambarkan tokoh ini memiliki karisma pribadi yang ketat.
"Wajah penuh senyum yang menarik, air muka yang baik hati dan tertawanya yang ringan" ujar Alexander Norman, yang menulis buku autobiografinya dan beberapa proyek lain setelah bertemu pada tahun 1988.
Sulit untuk menghilangkan pikiran bahwa sejumlah orang memandang Dalai Lama setingkat dengan "Sinter Klas" yang kebapakan, ujar Dr Nathan Hill, pengajar masalah Tibet dari SOAS, London.
"Dia memang fotogenik. Warga dunia barat menyukai bintang. Dia orang yang sangat ramah dan pintar. Menurut saya dia cerdik secara politik dan memiliki visi ke depan."
Banyak orang barat mencari bekal piritual yang damai di era penuh dengan materialisme, ujar Norman yang baru saja menerbitkan buku berjudul Kehidupan Rahasia Dalai Lama.
"Di dunia Barat yang sekular ada keinginan besar...satu perasaan haus akan sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh masyarakat industri modern."
"Dia juga sangat digemari oleh pembaca buku," ujar Hill. "Anda akan membaca bukunya untuk mencari kepuasaan batin."
Misteri Tebet
Penghargaan yang besar kepada Dalai Lama juga disulut oleh ide kuno orang Barat bahwa Tibet bagaikan Shangri-La yang terpencil.
"Orang Barat dilarang masuk ke Tibet dari tahun 1792-1903," ujar Hill. "Kebijakan itu menimbulkan satu misteri. Ada satu negara yang benar-benar tertutup untuk orang kulit putih.

"Ketika kita mulai mendapat informasi lebih banyak, kita mendapat kesan bahwa Tibet adalah tanah ajaib nan indah yang tersembunyi. Jadi itu semacam produk buku mengenai petualangan."
Juga ada perasaan bahwa Dalai Lama adalah tokoh penuh perhitungan secara politik sedemikian rupa yang membuat hal itu sebenarnya tidak betul.
"Dia semacam tokoh dalam banyak gerakan - gerakan hak binatang, sinkretisme keagamaan," ujar Norman. "Ada banyak ide orang yang dihubungkan dengan Dalai Lama."
Kebingungan dunia Barat akan Dalai Lama paling mudah digambarkan dengan melihat pandangannya mengenai hak-hak kaum homoseksual.
Dia telah mengemukakan tidak mendukung hubungan seksual sesama jenis, atau oral seks di kalangan pasangan heteroseksual, namun seringkali dia memberi gambaran yang sumir atas pandangannya itu.
"Dia akan mengatakan, itu pilihan anda, terserah pada suara hati masing-masing. Dia sangat sadar diri untuk tidak menyinggung orang."
Norman mengatakan sebagian warga Tibet yang mengasingkan diri di luar negeri mengkritik Dalai Lama karena mendukung gerakan tanpa kekerasan yang moderat. Sementara lawan-lawan agamanya mengatakan dia salah karena memuja dewa bernama Shugden.
Pendukung terkenal
"Memang ada sebagian kecil orang Tibet di luar negeri yang menentangnya, tetapi jumlahnya minoritas," ujar Robert Bennet, direktur Studi Tibet Modern di Universitas Columbia.
"Sementara di dalam Tibet sendiri hampir semua mengaguminya, dan juga langkah untuk mencari penyelesaian lewat jalan tanpa kekerasan."
Juga ada pembicaraan apakah Dalai Lama dan rekan-rekannya memberi gambaran tepat mengenai Tibet sebelum Cina melakukan intervensi tahun 1950, atau apakah mitos itu hanyalah ciptaan pengagumnya dari Barat.
Para pengagumnya itu bahkan percaya bahwa di masa sebelum tahun 1950 di Tibet "kaum wanita menikmati hak yang sama dan semua orang hidup secara harmonis dengan lingkungan," ujar Hill.
Akan tetapi Norman mengatakan penciptaan mitos ini tidak sepenuhnya kesalahan Dalai Lama.
"Di satu pihak kita bisa menuduhnya memberi gambaran yang tidak mungkin mengenai keadaan Tibet yang sebenarnya. Di pihak lain orang Tibet benar-benar percaya bahwa negara mereka seperti itu- satu negara dengan kesan yang romantis."
Kebencian Cina atas Dalai Lama adalah meski dia tidak suka dengan pandangan bahwa secara sejarah Tibet adalah bagian Cina, dia juga tidak mendukung ide Tibet sebelum tahun 1950an yang tertutup dengan memusatkan diri pada kaum papa dan kemiskinan.
"Dalai Lama sejak dahulu merupakan pengkritik keras 'Tibet lama'," ujar Donald Lopez dari Universitas Michigan.
Diplomasi secangkir teh
"Dia bukan pendukung Sindroma Shangri-La. Ada bukti kuat bahwa dia akan melakukan reformasi politik jika Cina tidak melakukan invasi saat itu."
Dan pandangan bahwa warga Barat yang mendukung Dalai Lama tidak sadar akan kerumitan masalah Tibet adalah salah, meski hal itu "sangat masa kini" ujar Barnett.

Lokasi Tibet yang berbatasan dengan tiga negara pemilik nuklir dan menguasai wilayah pasok air dunia akan menjadi masalah Tibet bukan hanya sekedar topik untuk mengisi waktu bagi kaum liberal Barat.
Para pemimpin politik yang telah bertemu dengannya, meski Cina tidak suka, memiliki tujuan yang jelas. Bagi mereka yang merasa tidak nyaman dengan pelanggaran hak asasi manusia Cina, bertemu dengan Dalai Lama adalah aksi balas dendam tanpa ada resiko pertikaian diplomatis yang besar.
"[Dalai Lama] adalah kesempatan baik bagi para pemimpin politik, dia tidak banyak memiliki tuntutan -dia tampaknya cukup puas untuk melakukan kegiatan simbolis seperti minum teh bersama atau berfoto berdama," ujar Barnett.
"Semakin keras Cina mengeluh, para pemimpin barat terlihat semakin kuat dan penuh dengan prinsip saat bertemu dengan Dalai Lama."
Jadi bisa dimengerti dia bertemu dengan semua presiden Amerika Serikat sejak tahun 1991.
Tetapi bagi warga biasa, baik itu benar atau salah, kepopuleran Dalai Lama hanya berpusat pada karisma dan pandangan yang sama.
Seperti yang ditulis oleh Norman, para penggemar dari Barat melihat seorang "santa sekuler" atau "Tuhan dari sikap kebenaran politik di dunia yang tidak bertuhan ini".





























