AS-Korea mulai latihan militer
- Penulis, Jonathan Marcus
- Peranan, Wartawan Diplomatik BBC
Latihan dimulai

Amerika Serikat dan Korea Selatan memulai latihan miltier besar-besaran di Laut Jepang, meski ada ancaman aksi balasan dari Korea Utara.
Latihan yang melibatkan angkatan laut dan angkatan udara ini mengerahkan 20 kapal, 200 pesawat dan 8.000 personel militer Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Washington dan Seoul mengatakan mereka ingin mengirim satu isyarat tegas kepada Korea Utara setelah satu kapal perang Korea Selatan tenggelam pada bulan Maret.
Penyelidikan internasional menyimpulkan kapal itu tenggelam akibat tembakan torpedo Korea Utara.
Akan tetapi Pyongyang dengan marah membantah tudingan itu.
Pada hari Sabtu (24/7) Korea Utara mengancam akan mempergunakan alat pertahanan nuklir dalam "perang suci balasan" sebagai reaksi atas latihan militer itu.
Wartawan BBC yang berada di salah satu kapal perang yang terlibat latihan militer ini mengatakan pameran kekuatan ini bertujuan menggoyahkan elit politik dan militer Pyongyang.
Tetapi sebagian pengamat mempertanyakan apakah pameran kekuatan militer ini justru mengukuhkan kubu garis keras di Korea Utatra.
Pernyataan menggebu-gebu Korea Utara bukan hal baru namun peningkatan ketegangan menimbulkan kekhawatiran dan Cina mendesak semua pihak menahan diri.
Departemen pertahanan Korea Selatan mengatakan latihan itu dipindahkan dari Laut Kuning yang sensitif ke Laut Jepang setelah Cina, yang merupakan sekutu Korea Utara, mengajukan protes.
Ditengah peningkatan ketegangan ini, para pejabat militer di Seoul mengatakan mereka mengawasi wilayah perbatasan militer dengan Korea Utara namun tidak mendeteksi kegiatan luar biasa menjelang latihan militer yang diberi nama Invincible Spirit ini.
Kantor berta Korea Utara melaporkan bahwa Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara mengecam latihan perang ini dan menyebutnya sebagai "provokasi terbuka yang bertujuan mengganggu Republik Rakyat Demokratik Korea lewat penggunaan senjata."
"Militer dan rakyat DPRK akan memulai aksi perang suci balasan dengan menggunakan alat pertahanan nuklir disaat yang diperlukan dalam menahan imperialis Amerika dan bonekanya Korea Selatan yang dengan sengaja mendorong situasi ke arah perang," lapor kantor berita Korea Utara.
Amerika Serikat menjawab dengan mengatakan negara itu "tidak berniat terlibat dalam perang kata-kata dengan Korea Utara".

Analisa

Saat ini adalah masa penuh ketegangan di semenanjung Korea, alasan yang cukup kuat bagi kunjungan dua pejabat tinggi Amerika Serikat -Menlu Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates- ke Korea Selatan di waktu yang bersamaan.
Tenggelamnya kapal perang Cheonan pada bulan Maret memulai satu putaran ketegangan baru antara Korea Utara dan Korea Selatan. Empat puluh enam pelaut tewas dalam insiden kapal perang itu.
Satu penyelidikan rinci yang didukung oleh pemerintah Seoul, dengan melibatkan pakar asing, mengisyaratkan bahwa kapal itu tenggelam oleh satu serangan, hampir dipastikan dilakukan oleh Korea Utara.
Namun tuduhan ini dibantah oleh Korea Utara yang menyatakan mereka tidak terlibat.
Reaksi internasional atas insiden kapal tenggelam ini beragam. Korea Utara bertekad membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB. Tanggal 9 Juli Badan ini mengeluarkan satu pernyataan yang mengecam serangan itu namun tidak sampai menyalahkan Korea Utara secara langsung.
Ada masalah politik yang besar disini; tak satupun dari pemain penting -Rusia, Cina atau Amerika Serikat- ingin meningkatkan ketegangan dan itu sangat jelas bahwa Moskow dan Beijing tidak akan mendukung tindakan yang lebih tegas.
Latihan bersama Angkatan Laut Amerika Serikat-Korea Selatan, dijadwalkan mulai tanggal 25 Juli, merupakan lanjutan dari diplomasi tingkat tinggi adalah satu cara Washington untuk meyakinkan sekutunya yang jelas gelisah.
Armada besar
Kekhawatiran mereka bahwa pemerintah Korea Utara yang seringkali sulit ditebak, mungkin akan menggunakan latihan bersama Angkatan Laut Korea Selatan-Amerika Serikat sebagai alasan untuk mengambil tindakan militer lebih jauh.

Itulah salah satu alasan kenapa Cina sangat khawatir dengan latihan dua angkatan laut. Seorang juru bicara departemen luar negeri Cina mendesak "pihak-pihak terkait untuk tetap tenang dan menahan diri" dan "tidak melakukan apapun yang bisa meningkatkan ketegangan wilayah".
Pesan itu ditujukan bukan hanya kepada Pyongyang tapi juga kepada Seoul dan Washington. Tetapi Beijing juga punya alasan sendiri kenapa tidak senang dengan latihan angkatan laut tersebut.
Dalam tahap berikutnya, manuver Korea Selatan-Amerika juga akan berlangsung di Laut Kuning yang terletak antara semenanjung Korea dan Cina.
Dan latihan ini bukan latihan kecil: latihan tahap awal di Laut Jepang akan menurunkan kapal induk George Washington, kapal pembawa pesawat terbang berkekuatan nuklir, 20 kapal lainnya serta beberapa kapal selam dan juga 100 pesawat terbang.
Bagi Beijing, perairan ini sangat dekat ke wilayahnya sendiri. Cina khawatir pada kehadiran angkatan laut negara asing yang besar di wilayah ini ketika Cina sendiri sedang memperluas operasi maritimnya.
Perlu waktu lama bagi Cina untuk bisa menyaingi kemampuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Tetapi ambisi Angkatan Laut Cina sangat jelas.
Harapan jangka panjang
Semua faktor ini menambah kerumitan hubungan segitiga antara Amerika, Korea dan Cina.
Kerumitan diplomatik ini mungkin bisa disamakan dengan segitiga Bermuda, satu wilayah diplomatik yang tidak pasti dan bencana bisa terjadi jika salah satu negara mengambil langkah yang salah.
Kalangan yang berpandangan formal mungkin tidak setuju bahwa ini adalah hubungan segitiga karena ada empat pemain yang terlibat dan sejumlah hubungan yang kompleks: antara Korea Utara dan Selatan; antara Washington dan Seoul; dan antara Beijing dan Pyongyang.
Diatas semua ini, tentu saja, ada hubungan yang lebih besar lagi yaitu antara Cina dan Amerika Serikat.
Arah hubungan kedua negara ini di masa mendatang sulit untuk ditebak. Kedua negara ini terkait secara ekonomi dalam banyak hal tetapi jelas mereka memiliki kepentingan strategis mereka masing-masing yang spesifik.
Mereka bukan sudah pasti akan terlibat dalam bentrokan, seperti yang sering dijadikan tema novel-novel perang futuristik. Tetapi apa yang terjadi di semenanjung Korea akan sangat menentukan dalam hubungan jangka panjang Cina dan Amerika.





























