Rusia kecam sanksi EU ke Iran
- Penulis, Jonathan Marcus
- Peranan, Wartawan Diplomatik BBC
Rusia kecam sanksi

Rusia menyebut sanksi Uni Eropa terhadap Iran sebagai "tidak bisa diterima", dan mengatakan langkah itu mengancam upaya internasional mengatasi ambisi nuklir Teheran.
Rusia, satu dari enam negara adidaya dunia yang berunding dengan Iran, mendukung sanksi PBB yang dijatuhkan bulan lalu namun menolak langkah sepihak tambahan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Pemberian sanksi di luar Dewan Keamanan PBB "tidak bisa diterima," tambah pernyataan tersebut.
Uni Eropa mengadopsi sanksi-sanksi baru dengan sasaran perdagangan luar negeri, perbankan dan sektor energi Iran.
Juru bicara departemen luar negeri Iran mengecam sanksi yang "sangat disesali itu" dan menegaskan akan terus melanjutkan proyek pengayaan uranium.
"Sanksi-sanksi ini tidak membantu memulai kembali perundingan dan tidak akan mempengaruhi tekad Iran untuk membelak hak legal dalam membuat program nuklir untuk keperluan damai," ujar juru bicara deplu Iran, Ramih Mehmanparast, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA>
Saat ini Iran dikenai sanksi keempat PBB karena menolak menuruti ultimatum Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan berulang kali agar menghentikan pengayaan uranium, bagian paling kontroversial dalam program nuklirya.
Teheran mengatakan hanya memperkaya uranium untuk kepentingan damai, namun negara-negara Barat menuduhnya mencoba mengembangkan satu senjata nuklir.
Apa sanksi efektif?

Apakah sanksi ekonomi berhasil? Pengalaman terdahulu tidak memberi bukti banyak untuk mendukungnya.
"Ada sedikit kasus yang menunjukkan bahwa sanksi berhasil, namun terkadang ketika sanksi dikombinasi dengan faktor lain," ujar Profesor Adam Roberts dari Universitas Oxford.
Faktor lain itu antara lain gerilyawan oposisi di dalam negara yang terkena sanksi itu.
"Jadi sulit untuk mengatakan apakah sanksi menjadi faktor penentu dalam kasus-kasus ini." ujarnya.
Pada bulan Juli 2010 Presiden Barack Obama menandatangani serangkaian hukum yang menetapkan sanksi bilateral lebih keras terhadap Iran.
Uni Eropa juga menerapkan sanksi terhadap Iran pada tanggal 26 Juli.

Langkah-langkah ini bertujuan menekan Teheran dan meningkatkan sanksi Dewan Keamanan PBB yang sudah ada.
Harapannya, kombinasi antara sanksi PBB dan sanksi bilateral akan membuat Iran berubah pikiran dan menghentikan program pengayaan uranium.
Sejauh ini, harapan itu belum menunjukkan keberhasilan.
Sejak Perang Dingin berakhir penerapan sanksi lebih sering digunakan sebagai alat diplomasi internasional.
Diplomat veteran Inggris, Jeremy Greenstock, yang menjadi dutabesar Inggris untuk PBB tahun 1998 dan 2003, mengatakan alasan dasar kepopuleran sanksi adalah "tidak ada langkah lain, setelah pernyataan dan aksi militer, untuk menekan satu peemrintah".
"Aksi militer semakin tidak populer dan tidak efektif di dunia yang semakin mementingkan legitimasi ini, dan pernyataan tidak mempan bagi rejim-rejim bergaris keras. Jadi perlu satu aksi lain dan itu adalah sanksi." ujarnya.
Sanksi memang pilihannya tetapi agar langkah ini berhasil sanksi harus diterapkan secara universal.
Dan menurut Nicholas Burns, mantan diplomat di era pemerintahan presiden Bush, hal ini tidak terjadi dalam kasus Iran.
"Banyak negara tidak mengindahkan sanksi itu, atau berlaku seperti Cina yaitu mengambil keuntungan," ujar Nicholas Burns.
Dia menjelaskan bahwa Cina menjadi mitra dagang terbesar Iran sejak sanksi PBB diterapkan.
"Sanksi adalah alat kebijakan yang sulit dan sensitif," tambahnya, yang mendukung pandangan Adam Robets dengan mengatakan bahwa "ada beberapa contoh dari peristiwa 25 dan 30 tahun lalu dimana sanksi berhasil".
Secara keseluruhan sanksi memiliki catatan buruk terkait dampaknya terhadap perekonomian negara.
Sanksi cenderung mengena langsung pada rakyat -pihak yang diperintah- bukan penguasa yang sering kali menjadi target tekanan internasional itu.
Contohnya adalah Irak di era 1990 an.

Serangan udara pasukan pimpinan Amerika yang bertujuan membebaskan Iran membuat infrastruktur Irak rusak berat.
Serangan itu memperburuk situasi yang sudah sulit akibat sanksi yang diterapkan sebelumnya.
Menurut Profesor Joy Gordon, dari Universitas Yale, kombinasi serangan bom dan sanksi berdampak sangat buruk.
"Irak memiliki kekayaan untuk membangun kembali," ujarnya, "Namun kerusakan infrastruktur dan larangan ekspor dan impor membuat Irak, seperti yang disebut oleh seorang utusan PBB, menjadi negara sebelum masa industri dan kemudian kondisinya dibuat seperti ini selama satu dekade setelah itu. "
Perdebatan mengenai berapa banyak warga Irak yang meninggal, terutama anak-anak, masih berlanjut hingga kini.
Joy Gordon mengatakan perkiraan mortalitas anak-anak -jumlah balita yang meninggal selama sanksi dan sebenarnya bisa terus hidup jika tidak ada sanksi dan perang- mencapai antara 670.000 dan 880.000.
Adam Roberts mengatakan angka itu kemungkinan jauh dari angka sebenarnya.
Tetapi memang terjadi kesulitan dan penderitaan dan dia tidak meragukan pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman di Irak itu.
"Seringkali, rakyatlah yang pertama menderita akibat sanksi, sementara warga yang berkuasa -mereka yang menjadi bagian rejim pemerintah- bisa mencari jalan keluar dari sanksi itu," tambahnya.
Dampak tak seimbang yang diderita oleh warga sipil Irak mendorong pembuat kebijaksanaan memikirkan kembali sanksi dan penerapannya.
Jeremy Greenstock mengatakan episode Irak menggarisbawahi fakta bahwa sanksi ekonomi bukan alat yang bisa dengan cepat membawa hasil.
"Sanksi membutuhkan waktu lama. Untuk itu kami mencoba membuat satu instrumen yang bisa mengena para pembuat kebijakan dengan waktu yang lebih cepat dan bukan hanya kejatuhan ekonomi secara keseluruhan, yang hanya membuat rakyat menderita."
Dan akhirnya muncullah sanksi "cerdik" atau "bertarget", yang ditujukan pada penguasa bukan rakyat.
Tetapi tidak ada kejernihan mengenai apa sebenarnya tujuan sanksi cerdik yang dijatuhkan pada Iran.

Apakah sanksi itu bertujuan mengubah perilaku pemerintah Iran terkait masalah nuklir? Apakah untuk mengisolasi Iran? Atau apakah ide itu, mungkin, bertujuan mengganti rejim yang berkuasa di Teheran?
Jeremy Greenstock menjawab: "Kami berharap semua dari itu", sebelum kemudian mengakhi bahwa sanksi itu masih merupakan alat yang tumpul.
"Ketumpulan ini adalah satu alasan karena tidak ada alat lain tetapi kami telah mengaku ada konsekuensi lain yang bisa terjadi karena itu dan kami telah mencoba mengatasinya, jika memutuskan untuk mempergunakan sanksi."
Sanksi juga memiliki kelemahan karena bisa mendorong reaksi defensif dari negara yang menjadi sasaran sanksi dan juga rakyatnya.
Adam Roberts mengatakan sebagian kalangan menyebutnya dampak "Battle of Britain"; menunjuk pada hari-hari di tahun 1940 ketika Inggris menghadapi serangan bom Jerman sendirian.
"Masalahnya adalah bagaimana mencegah sanksi ini mendorong kebencian berdasarkan rasa nasionalisme yang kuat di dalam Iran. Ketika Iran diserang Irak tahun 1980, masyarakat internasional tidak membantu, tidak memberi sanksi pada penyerangnya, Irak. Ini yang diingat di Iran."
"Dalam pernyataan resmi rejim Iran terasa satu pesan bahwa hanya mereka yang bisa menjaga diri negara," tegasnya.
"Dalam situasi ini sangat sulit untuk menerapkan sanksi secara benar sehingga tidak menimbulkan masalah di luar dari target semula."
Jadi, sanksi tampaknya merupakan satu alat penuh masalah.
Mungkin sanksi bisa berhasil, sampai titik tertentu, tetapi jika dilakukan bersama dengan langkah lain.
Mungkin umpan sama pentingnya dengan kail.
Namun belum jelas terlihat bahwa sanksi cerdik selalu berarti lebih efektif.
Memang perlu waktu lebih lama agar sanksi mulai memperlihatkan hasil dan dalam periode itu kerusakan besar pada ekonomi negara pun terjadi.
Meski demikian, ketika persenjataan diplomatik, berupa pernyataan dan peperangan, tidak efektif, memang tidak ada pilihan lain yang tersedia.





























