Korea Utara buat akun Twitter

Kim Jong-Il
Keterangan gambar, Investasi IT Korut telah berlangsung 20 tahun

Kata ''terisolasi'' dan ''rahasia'' sudah biasa digunakan ketika menulis tentang Korea Utara.

Tetapi Kamis lalu. Korea Utara membuat sbuah akun Twitter dengan nama @uriminzok, sebuah versi pendek bahasa Korea yang diartikan sebagai ''orang kami''.

Dan akun Twitter Korea Utara ini telah diikuti oleh lebih dari 4.500 pengikut.

Pembuatan akun Twitter ini mengikuti kebijakan untuk meluncurkan sebuah saluran YouTube Korea Utara, yang sekarang sudah terdapat sekitar 80 video.

"Korea Utara sebenarnya adalah negara yang sadar teknologi'' kata Hazel Smith, seorang peneliti masalah Korut di Universitas Cranfield di Inggris.

Smith mengatakan kalau Korea Utara telah berinvestasi secara besar-besaran di bidang informasi teknologi selama lebih dari 20 tahun.

"Mereka memiliki kader muda yang bisa menggunakan situs jejaring sosial. Tetapi masalah buat mereka adalah isinya,'' katanya.

Di saluran YouTube Korea Utara, isinya kebanyakan berisi propaganda yang penuh dengan retorika bombastis. Amerika Serikat dan Korea Selatan sering menyebutnya sebagai ''penghasut perang''.

Dalam tulisan terbaru di Twitter, Korut mengatakan kalau pemerintahan di Korea Selatan saat ini adalah ''seorang pelacur'' bagi AS.

"Sejauh ini tulisan didalam Twitter Korut tidak ada yang baru,'' kata Sung-Yoon Lee, seorang profesor Politik Internasional di Fletcher School of Law and Diplomacy di Universitas Tufts di Boston.

Lee mengatakan kalau badan yang bertanggung jawab untuk tayangan film dan postingan Twitter adalah sebuah institusi penting di partai komunis yang tengah berkuasa saat ini.

'Suara pemerintah'

Meski telah memiliki halaman resmi di YouTube dan Twitter, tetapi ironisnya sebagian besar warga Korea Utara yang berjumlah sekitar 23 juta orang justru tidak memilki akses internet, dan oleh karena itu tidak bisa mengikuti jejaring sosial yang dibuat oleh pemerintah.

Dan walau mereka bisa mengikutinya, mereka tetap tidak diijinkan untuk menggunakan media sosial ini untuk mengkritik rezim, kata Gilles Lordet, pemimpin Redaksi Reporters without Borders di Paris.

Mereka memiliki kader muda yang bisa menggunakan situs jejaring sosial Hazel Smith

"Jelas tidak ada kebebasan pers di Korea Utara, tidak ada media yang bebas, hanya ada pemerintahan, suara rezim yang berkuasa,'' kata Lordet.

Untuk saat ini, semua saluran jejaring sosial Korea Utara menggunakan bahasa Korea.

tetapi Profesor Lee memperkirakan kalau mereka dalam waktu dekat akan memakai bahasa Inggris dalam setiap postingannya.

"Korea Utara sudah membuat materi propaganda dalam bahasa Inggris, melalui kantor berita mereka, mereka memiliki alat untuk melakukan hal tersebut.''

"Hanya butuh sedikit waktu dan upaya untuk mereka melakukan hal itu'', tambahnya.