Perundingan capai 'kemajuan'

Isu pemukiman Yahudi di Tepi Barat menjadi ganjalan
Keterangan gambar, Isu pemukiman Yahudi di Tepi Barat menjadi ganjalan

Pemimpin Israel dan Palestina telah mencapai kemajuan mengenai isu pemukiman Yahudi di Tepi Barat dalam putaran terbaru perundingan damai Timur Tengah, kata utusan AS George Mitchell.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Mitchell setelah kedua belah pihak melanjutkan perundingan langsung di Yerusalem.

Pihak Palestina menyatakan akan keluar dari perundingan jika Israel tidak memperpanjang larangan terbatas terhadap pembangunan pemukiman.

Israel masih belum memperbaharui pembatasan yang masa berlakunya akan mulai habis pada 30 September.

Perundingan kedua belah pihak berlanjut dua pekan lalu setelah terhenti sekitar 20 bulan.

''Saya akan katakan bahwa kedua pemimpin tidak menyisihkan masalah-masalah pelik ke bagian akhir diskusi mereka,'' kata Mitchell. ''Kami pandang ini sebagai indikator kuat keyakinan mereka bahwa perdamaian itu mungkin.''

Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kediaman resminya di Yerusalem dalam perundingan dengan penengah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton.

Perundingan itu merupakan kelanjutan perundingan yang dimulai di kawasan tetirah Mesir, Sharm-el-Sheikh hari Selasa.

Belum ada rincian mengenai subtansi pembicaraan.

'Masalah inti'

Hampir setengah juta warga Yahudi tinggal di lebih dari 100 pemukiman yang dibangun sejak Israel mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada tahun 1967. Kawasan pemukiman itu dinyatakan ilegal berdasarkan hukum internasional, namun Israel menolak penilaian semacam itu.

Juru bicara Presiden Abbas, Nabil Abu Rudeina, menggambarkan perundingan "serius dan mendalam, tapi kendala pemukiman masih ada".

Juru bicara Netanyahu mengatakan kedua pihak untuk membuat keputusan sulit.

"Jalan menuju kesepakatan adalah mencermati semua masalah ini bersama-sama, bukannya menjauh dari yang mana pun,'' kata Mark Regev kepada kantor berita Associated Press.

''Jika harapan hanya Israel harus memperlihatkan fleksibilitas, maka itu bukan resep proses yang berhasil,'' katanya.

Mitchell mengatakan perundingan di Yerusalem akan disertai pembicaraan pada tingkat lebih rendah antara tim perunding Israel dan Palestina dalam beberapa hari ke depan.