Keprihatinan PM Jepang atas Cina

Naoto Kan
Keterangan gambar, Komentar Kan muncul setelah tiga warga Jepang dibebaskan Cina.

Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, mengungkapkan keprihatinan atas perkembangan kekuatan militer dan peningkatan kegiatan laut Cina.

"Bangkitnya Cina dalam beberapa tahun belakangan luar biasa namun kami prihatin dengan penguatan kapabilitas pertahanannya yang tidak transparan dan peningkatan kekuatan maritim dari Lautan India ke Laut Cina Selatan," kata Naoto Kan.

Dia menyampaikan keprihatinan itu dalam pidato pertamanya di parlemen sejak berhasil mempertahankan kepemimpinannya dari krisis politik bulan lalu.

Lebih lanjut dia menegaskan perlunya bagi Jepang untuk menerapkan diplomasi yang aktif dan kebijakan pertahanan yang bisa menangani ketidakpastian dan ketidakstabilan di kawasan sekitar Jepang.

Komentar ini muncul setelah tiga warga Jepang -yang ditangkap Cina karena tuduhan memasuki kawasan militer- dibebaskan. Namun seorang lain masih tetap ditahan, seperti dilaporkan wartawan BBC, Roland Buerk, di Tokyo.

Pertemuan ASEM

Perdana Menteri Kan juga mendesak agar Cina -yang merupakan mitra terbesar Jepang- bertindak sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab.

Hubungan kedua negara memanas karena penangkapan seorang kapten kapal ikan Cina oleh patroli Jepang di kawasan Laut Cina Timur yang dipersengketakan. Sebagai tanggapan atas penangkapan itu, Beijing menghentikan kontak diplomasi tingkat tinggi dengan Tokyo, sementara unjuk rasa anti Jepang marak di Cina.

Cina kemudian menangkap empat warga Jepang yang diduga memasuki kawasan militer terlarang, yang sudah dibebaskan Kamis 30 September. Namun seorang lagi -yang dituduh merekam video sarana militer secara gelap- masih belum dibebaskan.

Naoto Kan dan koleganya Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, akan menghadiri pertemuan Asia-Eropa (ASEM) di Brussels awal pekan depan, dan tidak ada rencana keduanya akan melakukan pertemuan bilateral.