Cerita PHK di Inggris

Sejumlah orang yang bekerja di sektor publik bercerita tentang kekhawatiran mereka di tengah ancaman PHK pegawai negeri.
"Yang dapat saya katakan, semua orang khawatir, tetapi harus mendengar lebih rinci...yang diumumkan baru departemen dan belum jelas berapa pengurangan untuk kantor-kantor di bawahnya," kata Annabel Gallop yang bekerja di perpustakaan Inggris, British Library.
Sementara itu Lia Lutfi yang bekerja di dewan kota Birmingham mengatakan kantornya telah melakukan restrukturisasi terlebih dahulu namun diperkirakan masih akan mengalami pengurangan lebih lanjut.
"Sangat stres. Departemen kami sudah mengurangi setengah jumlah karyawan. Bagi yang tinggal, mungkin lega namun juga di lain pihak merasa bersalah juga simpati dengan teman yang kehilangan pekerjaan, karena mereka punya tanggungan kredit rumah dan anak-anak," kata Lia.
Lia menambahkan bagi yang telah diPHK kemungkinan uang pesangon yang mereka dapatkan cukup sekitar dua tahun namun "tidak ada jaminan mereka akan mendapatkan pekerjaan lagi dalam kondisi ekonomi seperti sekarang."
Ia juga mengatakan masih menunggu langkah lebih lanjut menyusul pengumuman menteri keuangan Inggris untuk mengurangi anggaran sebesar 130 miliar dolar selama empat tahun mendatang, pemotongan terbesar sejak Perang Dunia II.
Bagi yang masih bekerja, menurut Lia dikondisikan untuk melakukan pekerjaan mereka yang di PHK sementara sistem kenaikan gaji juga dibekukan.
"Sistem yang memblok kenaikan gaji juga dilakukan, jadi untuk naik gaji setiap tahun juga semakin sulit," tambahnya.
Sekitar 500.000 pegawai negeri sipil terancam diPHK sampai tahun 2015. Pemerintah berpendapat pemotongan ini diperlukan guna mengurangi defisit anggaran yang besar.
Sektor kesehatan

Namun dari sejumlah sektor dengan anggaran yang dikurangi, anggaran untuk sektor kesehatan dan pembangunan internasinoal akan dilindungi dari pemotongan.
Yumna Ilyas, seorang dokter asal Indonesia yang bekerja di Royal London Hospital mengatakan kekhawatiran soal PHK tidak terasa di rumah sakit tempat dia bekerja.
"Sepertinya tak banyak perubahan karena di tempat saya bekerja banyak yang bukan staf permanen, dan prospek PHK kecil," kata Yumna.
Yumna mengatakan banyak karyawan rumah sakit yang bekerja hanya bila diperlukan.
"Jadi bila satu bangsal dengan enam pasien ada tiga perawat, kemungkin hanya perlu dua perawat tanpa asisten," katanya.
"Saya pribadi tak khawatir akan terjadi PHK, namun mungkin harus bekerja lebih giat lagi karena berkurangnya staf yang dapat dipanggil bila diperlukan," tambahnya.





























