Hari ke-3 referendum diwarnai bentrok

Abyei setelah konflik
Keterangan gambar, Selamat perang saudara hingga 2005 Abyei kerap jadi lokasi konflik

Referendum pemisahan wilayah Utara-Selatan Sudan memasuki hari ketiga dengan kekhawatiran PBB terhadap timbulnya konflik senjata.

Menurut Komisi Referendum sudah 20 persen pemilih terdaftar yang memberikan suaranya di tempat-tempat pemungutan suara yang dibuka satu jam lebih lama karena membludaknya antusiasme warga.

Agar referendum bisa dinyatakan sah, maka sedikitnya 60 persen pemilih terdaftar harus memberikan suaranya.

Namun ditengah proses yang akan berlangsung selama tujuh hari ini, PBB telah menyatakan kekhawatirannya tentang pecahnya pertempuran di wilayah perbatasan tengah Sudan di Abyei, dimana sedikitnya 30 orang tewas akibat konflik itu, Senin (10/01) kemarin.

Abyei kaya cadangan minyak dan menjadi wilayah incaran kubu Utara maupun Selatan. Wilayah ini dijadwalkan melangsungkan referendum tersendiri untuk memutuskan apakah akan memilih bergabung pada satu pihak , namun tanggalnya belum dipastikan.

Ketidakpastian

Sementara besarnya perhatian internasional serta sejumlah tanggapan positif terhadap berlangsungnya referendum yang berjalan relatif damai, tidak disambut komentar seragam.

Harian Global Times, media pemerintah Cina yang terbit berbahasa Inggris di Beijing, dalam website-nya menyebut "...nasib perusahaan-perusahaan minyak Cina yang beroperasi di Sudan kini tidak jelas atau bahkan menghadapi risiko. Kelanjutan operasi bisnis perusahaan-perusahaan itu akan tergantung pada apakah pihak Selatan Sudan akan mampu mempertahankan stabilitas setelah referendum usai."

Kantor berita AP menulis bentrokan berdarah di Abyei sudah terjadi sejak referendum belum dimulai, dimana pejabat di Selatan maupun Utara Sudan memberikan penjelasan berbeda-beda terkait kejadian itu.

Pemerintahan Sudan di Utara selama bertahun-tahun disebut-sebut mengandalkan tentara milisi suku-suku setempat yang dikenal dengan nama laskar Janjaweed, untuk mengatasi kelompok pemberontak di wilayah perbatasan selatan dan Barat, dimana Darfur terletak.