Evakuasi 450 WNI dari Mesir

Unjuk rasa di lapangan Tahir

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Demonstrasi di Mesir terus berlanjut menuntut Presiden Mubarak mundur

Evakuasi 450 warga negara Indonesia akan dilakukan Selasa (01/02/2011) dari Mesir dengan prioritas utama ibu-ibu serta anak-anak, kata pejabat kedutaan Indonesia di Kairo.

"Kriteria mereka yang dievakuasi adalah ibu hamil, serta ibu dan anak-anak. Yang sudah terdata 450 orang dan mereka akan berangkat pukul 21 waktu Mesir dari Kairo," kata Iwan Wijaya, kepala fungsi penerangan KBRI kepada BBC Indonesia.

Iwan mengatakan dari sekitar 6.000 warga Indonesia yang ada di Mesir, sebagian memang menyatakan ingin pulang, namun pihak kedutaan melakukan pendataan dengan prioritas seperti yang telah ditetapkan.

Tetapi ia tidak memperinci jumlah berapa orang yang ingin kembali ke Indonesia sambil menunggu situasi kembali aman.

Sebelumnya, juru bicara kementerian luar negeri, Michael Tene mengatakan pemerintah Indonesia sudah mengirim pesawat Boeing 747-400 Garuda Indonesia ke Mesir untuk mengevakuasi WNI.

Bunyi tembakan

Iwan Wijaya mengatakan warga Indonesia yang merasa tidak aman karena tinggal di pusat kota dekat tempat demonstrasi ditampung di konsuler Indonesia yang terletak di kawasan Nasr City, Kairo.

"Kalau mereka merasa tidak aman, mereka bisa kami tampung ke posko, sambil menunggu evakuasi," kata Iwan.

Kamaliah Saleh, yang suaminya tengah belajar di Mesir, adalah seorang dari 450 WNI yang akan dipulangkan.

"Rumah saya dekat dengan daerah rawan, ada bagunan dibakar di belakang rumah. Setiap malam kita dengar tembakan. Kasihan anak saya," kata Kamaliah.

Ia mengatakan suaminya masih bertahan sambil menunggu kuliah yang hampir selesai.

Sementara itu Ella Larasati juga tinggal di daerah rawan dan memiliki anak kecil.

"Dari sisi kebutuhan makan, kami tidak kekurangan, banyak toko yang buka. Jadi saya pulang karena punya anak kecil. Sementara suami saya yang kerja di perusahaan petrokimia masih tetap bertahan dulu," kata Ella.

Jumlah WNI di Mesir mencapai 6.000 orang, termasuk 4.000 pelajar dan mahasiswa.

Prihatin

Sementara itu sejumlah keluarga di Indonesia yang memiliki anak yang tengah belajar di Mesir menyatakan kekhawatirannya. Hasan Nawawi seorang warga di Lamongan Jawa Timur mengatakan kepada BBC, terakhir kali dia berhasil menghubungi anaknya yang kuliah di Al Azhar Kairo tiga hari yang lalu.

"Sekarang sudah tidak bisa nyambung. Saya belum mendapat kabar sejauh ini, tentu ada kekhawatiran akan keselamatan anak-anak di sana, mudah-mudahan bisa selamat setelah dievakuasi," katanya.

Tapi nasib berbeda dialami Jumat seorang warga Magelang yang anaknya juga belajar di Kairo. Dia beberapa kali berhasil menghubungi anaknya lewat telfon. Menurut Jumat, anaknya akan mengevakuasi istrinya terlebih dahulu ke Jakarta.

"Karena pemerintah mau memulangkan warga, kemarin sempat berfikir, istrinya disuruh pulang dengan anaknya tapi istrinya tidak mau. Sampai tadi pagi dia menelefon saya, bagaimana ibu anaknya pulang duluan pak, tanyanya. Saya bilang terserah yang tahu kondisinya kamu," kata Jumat.