Pengunjuk rasa di Mesir kembali turun ke jalan

Militer Mesir

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pernyataan militer tampaknya menambah semangat pengunjuk rasa untuk meningkatkan tekanan atas Presiden Mubarak

Para pengunjuk rasa Mesir kembali berkumpul untuk menggelar pawai besar di Kairo sebagai upaya meningkatkan tekanan untuk mendongkel Presiden Hosni Mubarak dari kursi kekuasaan.

Pihak pengelola unjuk rasa berharap sekitar satu juta orang akan turun ke jalan-jalan, yang akan menjadi unjuk rasa terbesar sejauh ini. Pawai serupa juga direncanakan di Iskandariah.

Sementara itu militer Mesir berjanji tidak akan menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Dan Wakil Presiden Omar Suleiman sudah menyatakanakan akan menggelar pertemuan lintas partai untuk membahas reformasi konstitusional.

Wartawan BBC, Lyse Doucet, di Lapangan Tahrir, Kairo mengatakan massa yang hadir lebih besar dari hari-hari sebelumnya.

Pernyatan militer menjadi pukulan besar bagi Presiden Mubarak dan tampaknya membuat para pengunjuk rasa tetap semangat dan berdatangan ke pusat ibukota Kairo.

"Kami di sini untuk menyampaikan sebuah pernyataan. Kami tidak akan pergi sampai Mubarak mundur," kata Tarek Shalabi, seorang pengujuk rasa, kepada BBC.

Sejumlah pengunjuk rasa bermalam di Lapangan Tahrir sejak Senin dengan mengatakan akan tetap berada di sana sampai Mubarak mundur.

Suasana karnaval

Memasuki tengah hari waktu setempat (18.00 WIB), pengunjuk rasa yang berkumpul di Lapangan Tahrir sudah mencapai 100.000 lebih orang, termasuk pria, perempuan, dan anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat di Mesir.

Wartawan BBC melaporkan suasananya seperti karnaval. Para pengunjuk rasa bernyanyi dan berteriak, sementara sebagian lagi memajang plakat dan spanduk berisi pesan anti-Mubarak.

Ada juga yang menggantungkan boneka Presiden Hosni Mubarak di lampu lalu lintas di Lapangan Tahrir, diikuti sorak sorai dari pengunjuk rasa.

Di kota terbesar kedua, Iskandariah, ribuan orang sudah berkumpul di dekat stasiun kereta api dengan harapan bisa bergabung dengan unjuk rasa utama di Kairo.

Namun karena terbatasnya layanan bis, kereta api, dan penerbangan dalam negeri, sejumlah unjuk rasa juga berlangsung di beberapa tempat di luar Kairo.

Hari ini, Selasa 1 Februari, seorang pejabat keamanan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan semua jalan raya dan transport umum ke Kairo ditutup.

Inspirasi dari Tunisia

Mantan presiden Tunisia, Ben Ali

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Unjuk rasa di Tunisia berhasil menggulingkan Presiden Ben Ali.

Presiden Hosni Mubarak sudah menempuh perombakan kabinet untuk menenangkan pengunjuk rasa dan mengganti Menteri Dalam Negeri, Habib al-Adly, yang tidak disukai pengunjuk rasa.

Sedikitnya 100 orang tewas di seluruh negeri sejak unjuk rasa dimulai sepekan lalu menyusul kampanye di internet, yang diinspirasi dari jatuhnya Presiden Zine al-Abidine Ben Ali di Tunisia bulan lalu.

Pihak berwenang Mesir sudah memutus hubungan internet, sementara layanan SMS dihambat.

Namun Google mengumumkan Senin (31/01) bahwa mereka mengoperasikan layanan khusus agawa warga Mesir bisa mengirim pesan ke Twitter dengan memutar nomor telepon dan meninggalkan pesan suara.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sudah mengirimkan utusan khusus ke Kairo, yaitu mantan duta besar untuk Mesir, Frank Wisner.

Keprihatinan juga muncul atas perekonomian negara itu, bersamaan dengan naiknya harga minyak ke tingkat US$ 100 per barel akibat kekhawatiran atas unjuk rasa yang terus berlanjut ini.