Clinton: Timteng hadapi 'badai kerusuhan'

Sumber gambar, AFP
Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton mengatakan Timur Tengah menghadapi badai kerusuhan dan bahwa negara-negara di kawasan itu harus merangkul perubahan demokratik.
Clinton, yang berada di Munchen, mengatakan status quo di kawasan itu "jelas tidak bisa dipertahankan".
Dia menyebutkan transisi ke demokrasi mungkin bisa menimbulkan suasana kacau tetapi pada akhirnya "rakyat yang bebas memerintah negeri mereka sendiri dengan baik".
Clinton mengeluarkan pernyataan itu menyusul kerusuhan yang menyebabkan presiden Tunisia melarikan diri dan Mesir dilanda gelombang aksi protes.
Aksi unjuk rasa juga berlangsung di Yordania dan Yaman.
Kebutuhan strategis
Dalam pertemuan Kuartet Timur Tengah di Munchen, Jerman selatan, Clinton mengatakan: "Kawasan itu sedang dilanda badai yang besar."
"Inilah yang mendorong para demonstran turun ke jalan-jalan di Tunis, Kairo dan kota-kota di seluruh kawasan. Status quo jelas tidak bisa dipertahankan."
Dia mengatakan dengan adanya kekurangan pasokan air dan minyak, pemerintah berbagai negara mungkin saja bisa menahan gelombang perubahan untuk jangka pendek tetapi tidak untuk waktu yang lama.
"Sebagian pemimpin mungkin percaya negara mereka merupakan kasus pengecualian -bahwa rakyat mereka tidak akan meminta kesempatan politik dan ekonomi yang lebih besar, atau bahwa rakyat mereka bisa ditahan dengan langkah-langkah yang separuh."
"Untuk jangka pendek, itu mungkin benar, tetapi untuk jangka panjang akan susah untuk dibenarkan."
Clinton mengakui bahwa transisi akan membuat periode yang tidak stabil tetapi negara-negara nantinya akan menjadi lebih makmur kalau mereka lebih terbuka.
"Ini bukan hanya masalah idealisme, tetapi merupakan kebutuhan strategis," kata Clinton.
Amerika menyerukan agar segera dilakukan peralihan kekuasaan yang damai di Mesir.





























