Demonstran Mesir blokir pintu parlemen

Sumber gambar, AFP
Pengunjuk rasa antipemerintah di Mesir tetap menduduki Lapangan Tahrir pada hari ke-16 dan bahkan memblokir pintu masuk parlemen.
Ratusan orang kini telah memblokir pintu masuk ke gedung parlemen Mesir, hanya beberapa blok dari Lapangan Tahrir. Kantor berita AFP melaporkan pasukan keamanan menjaga gedung parlemen dan unjuk rasa berjalan tertib.
Mereka tetap menuntut Presiden Husni Mubarak mundur sekarang juga.
Mereka juga menyampaikan kemarahan atas pernyataan Wakil Presiden Omar Suleiman yang memperingatkan kemungkinan perebutan kekuasaan bila kubu oposisi menolak berunding dengan pemerintah.
Seorang juru bicara koalisi kelompok pemuda mengatakan Suleiman mengancam akan menerapkan undang-undang militer.
"Dia mengancam akan memberlakukan undang-undang militer, artinya semua orang yang ada di Lapangan Tahrir akan ditumpas," kata Abdul-Rahman Samir seperti dikutip kantor berita AP.
Konfrontasi
"Namun apa yang akan dia lakukan terhadap 70 juta rakyat Mesir lainnya yang kemudian akan mengikuti jejak kami," tanya Samir.
Di tempat terpisah, sedikitnya satu orang tewas dalam bentrokan antara polisi dan demonstran di Provinsi New Valley, sekitar 500 kilometer dari Kairo.
Inilah konfrontrasi fatal pertama yang diyakini terjadi antara kedua pihak sejak demonstrasi tanggal 28 Januari ketika puluhan demonstran tewas.
Wartawan BBC di Kairo Jon Leyne melaporkan di Mesir muncul sejumlah laporan tentang kerusuhan industrial.
Sekitar 6.000 pekerja di Terusan Suez, terusan milik pemerintah yang menghubungkan Mediterania dengan Laut Merah, mengadakan mogok kerja.
Pemerintah Mesir telah mengumumkan beberapa langkah menuju transisi, antara lain Presiden Mubarak tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan September mendatang.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS Joe Biden dalam percakapan telepon dengan Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman meminta agar menjamin peralihan kekuasaan yang tertib, bermakna, dan punya legitimasi.





























