Polisi Yaman bubarkan aksi protes

Rakyat Yaman mendesak Presiden Ali Abdullah Saleh untuk mundur.

Sumber gambar, ap

Keterangan gambar, Rakyat Yaman mendesak Presiden Ali Abdullah Saleh untuk mundur.

Pasukan keamanan Yaman menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan ribuan orang yang menggelar aksi unjuk rasa anti pemerintah di ibukota Sana'a

Pasukan keamanan turun tangan setelah massa anti pemerintah bentrok dengan massa pro pemerintah, Selasa (15/2).

Dalam betrok antar massa itu beberapa orang terluka termasuk seorang anggota parlemen dari kelompok oposisi Ahmed Seif Hashid.

Para pengunjuk rasa ini menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh yang sudah berkuasa hampir 32 tahun untuk turun dari jabatannya, meski Presiden Ali sudah berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi tahun 2013 mendatang.

Aksi unjuk rasa yang dipicu aksi serupa di Tunisia dan Mesir ini sudah memasuki hari kelima.

Kawasan timur tengah kini tengah dilanda gelombang aksi unjuk rasa anti pemerintah. Kondisi ini dipicu masalah-masalah sosial seperti pengangguran, meningkatkan harga kebutuhan pokok, korupsi dan kepemimpinan otokrasi.

Gelombang ketidakpuasan terhadap pemerintah ini dimulai dengan penggulingan Presiden Tunisia Zine al-Abedine Ben Ali bulan lalu. Aksi serupa kemudian menjalar ke Mesir yang berakhir dengan mundurnya Presiden Hosni Mubarak.

Kelompok oposisi Iran pun mencoba melakukan aksi serupa yang berakhir dengan bentrokan berdarah di Teheran, Senin (14/2) lalu. Dan gelombang unjuk rasa terbaru kini terjadi di Bahrain yang membuat polisi harus membubarkan aksi unjuk rasa di ibukota Manama.