Oposisi Libia lari dari pelabuhan minyak

Para pejuang perlawanan Libia melarikan diri dari pelabuhan minyak Ras Lanuf setelah terus-menerus diserangan oleh pasukan yang setia pada Kol Muammar Gaddafi.
Laporan-laporan menyebutkan tentang korban sipil yang cukup besar setelah posisi pemberontak dan kawasan permukiman diserang dengan roket dan artileri.
Televisi negara Libia mengatakan tentara pro-Gaddafi juga mengusir pasukan perlawanan dari pelabuhan minyak Sidra, sebelah barat Ras Lanuf.
Salah seorang putra Kol Gaddafi, Saif al-Islam, mengatakan sudah tiba waktunya bagi "pembebasan" dan "tindakan".
'Melarikan diri'
Sementara itu, Prancis menjadi negara pertama yang mengakui pimpinan pemberontak Libia yaitu Dewan Peralihan Nasional (NTC) sebagai pemerintah yang sah di Libia.
Ini terjadi pada saat Nato membahas opsi-opsi militer internasional dalam konflik Libia, termasuk kemungkinan memberlakukan zona larangan terbang.
Pertempuran sengit berlangsung di Libia sejak pertengahan Februari ketika perlawanan terhadap 42 tahun kekuasaan Gaddafi berhasil merebut banyak kota kecil dan besar di Libia timur, di tengah sukses pemberontak rakyat di dua negara tetangga, Tunisia dan Mesir.
Dalam beberapa hari belakangan ini, pasukan Gaddafi mencoba merebut kembali kawasan yang dikuasai pemberontak di timur, serta kota Zawiya sebelah barat Tripoli. "Kami sekarang bergerak," kata Saif al-Islam Gaddafi kepada kantor berita Reuters.

Satu laporan hari Kamis mengatakan bahwa sewaktu mereka maju ke Ras Lanuf, tank-tank yang dikendalikan oleh pasukan pro-Gaddafi bergerak ke posisi mereka paling timur sejak konflik bermula.
Seorang saksi mata di Ras Lnuf mengatakan dia melihat puluhan mayat di kawasan permukiman di kota itu.
Seorang wartawan BBC mengatakan rumah sakit Ras lanuf dikosongkan karena dibombardir, dan satu masjid terkena serangan di kawasan permukiman tempat tinggal para pekerja minyak.





























