Pasukan Gaddafi kerahkan serangan udara

Sumber gambar, AP
Pasukan yang loyal kepada Kolonel Moammar Gaddafi meluncurkan sejumlah serangan udara ke kota minyak yang dikuasai pemberontak Ras Lanuf, 400km sebelah timur Tripoli.
Kantor berita Reuters melaporkan, satu serangan mengenai sebuah mobil yang mengangkut sebuah keluarga dan menewaskan satu orang di dalamnya.
Selain menyerang Ras Lanuf, pasukan Gaddafi kembali menyerang Zawiya dengan menggunakan tank dan artileri berat.
Sementara itu, di kota Misrata sekitar 200 km sebelah timur Tripoli, seorang dokter setempat kepada BBC mengatakan pertempuran sepanjang hari Senin (7/3) menewaskan 21 orang dan melukai sedikitnya 100 orang.
Bahkan, tambah dokter itu, korban luka yang dibawa ke rumah sakit masih menjadi target pasukan pro Gaddafi.
Berbagai gempuran di kota-kota yang dikuasai pemberontak ini menurut wartawan BBC di Tripoli Wyre Davies membuat kepercayaan diri pendukung rezim Gaddafi meningkat.
Namun, Davies menambahkan, sangat sulit mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan karena pemerintah Libia membuat akses jurnalis ke lokasi pertempuran sangat minim.
Minta dukungan dunia

Sumber gambar, Reuters (audio)
Serangan bertubi-tubi pasukan pemerintah membuat warga di sejumlah kota meminta agar dunia internasional memberlakukan zona larangan terbang untuk mencegah pesawat-pesawat tempur Gaddafi melakukan serangan.
Seruan rakyat ditambah banyaknya korban berjatuhan dari warga sipil membuat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mempertimbangkan untuk melancarkan aksi militer sebagai tanggapan atas situasi terkini di Libia.
"Kami mengirim pesan yang sangat jelas kepara rakyat Libia bahwa kami akan mendukung mereka melawan kekerasan dan tekanan terhadap demokrasi yang kami lihat di sana," kata Presiden AS Barack Obama.
Sementara itu, Inggris dan Prancis tengah merancang resolusi PBB yang akan mengatur tentang zona larangan terbang. Usulan serupa juga datang dari negara-negara teluk.
Sedangkan Perdana Menteri Rusia Sergei Lavrov menegaskan pernyataannya yang menentang intervensi militer ke Libia. Apalagi Rusia memiliki hak veto terhadap semua resolusi Dewan Keamanan PBB.
Data terakhir PBB mencatat sedikitnya 191.748 orang yang sebagian besar warga asing telah meninggalkan Libia sejak bentrok bersenjata pecah.
Membludaknya pengungsi ini membuat masalah baru di perbatasan karena banyak warga yang tak bisa melintas dan terlantar di perbatasan.





























