Pasukan Gaddafi bombardir pemberontak

Pasukan Libia yang setia kepada Kolonel Gaddafi perlahan-lahan merangsek ke kota-kota kecil penting yang dikuasai oleh pemberontak.
Ajdabiya, kota kecil penting yang masih dikuasai oleh pemberontak, menjadi sasaran gencar dari udara.
Di bagian barat Libia, pasukan darat dan tank membombardir kota kecil Zuwara.
Sebelumnya, pasukan pemberontak menyatakan mereka telah merebut kembali kota minyak Brega, tapi rezim Gaddafi menepis pernyataan kubu oposisi.
Sementara itu, Dewan Keamanan tengah mempertimbangkan kemungkinan pemberlakuan zona larang terbang di atas Libia.
Liga Arab pada hari Sabtu (12/3) menyatakan mendukung penerapan zona semacam itu, namun Nato dan Amerika Serikat tampak masih bersikap berhati-hati terhadap keterlibatan militer langsung di dalam konflik di Libia.
Pertempuran baru

Sumber gambar, Getty
Selagi pertempuran berlanjut di belahan timur Libia, posisi garis depan dalam konflik bersenjata ini tidak begitu jelas.
Kota minyak Brega sudah beberapa kali berganti tangan sepanjang akhir pekan di tengah gempuran udara dan darat yang dilancarkan oleh pasukan pemerintah.
Pasukan pemberontak mengatakan hari Senin menyatakan mereka telah merebut kembali kota penghasil minyak, dan menangkap beberapa anggota pasukan elit pemerintah dan menewaskan beberapa orang.
Pernyataan itu belum dikukuhkan oleh pihak lain.
Di belahan barat Libia, serbuan pasukan pemerintah terhadap kota Misrata yang diduduki pemberontak tampaknya macet, lapor wartawan BBC Jon Leyne dari basis pemberontak di Benghazi di pesisir timur Libia.
Misrata -sekitar 200 km arah timur ibukota, Tripoli- merupakan satu-satunya kota besar penting yang dikuasai oleh pemberontak di luar belahan timur Libia.
Menurut para tokoh pemberontakan, pertempuran pecah antara satuan-satuan militer pemerintah yang sebagian menolak menyerang warga sipil Libia.
Namun, pasukan Kolonel Gaddafi tengah mempersiapkan serangan lain terhadap oposisi yang menguasai kota kecil Zuwara, di sebelah barat kota Zawiya yang direbut kembali oleh pasukan pemerintah pekan lalu.
Di sebleah timur Brega, dan di luar garis pertahanan pemberontak, pesawat tempur pro-Gaddafi membom kota Ajdabiya, kata pemberontak.
Ajdabiya adalah sentra hunian penduduk setelah kota utama yang masih dikuasai pasukan pemberontak, Benghazi.
'Tahap menentukan'
Panglima tertinggi pasukan perlawanan -yang juga mantan menteri dalam negeri- Jenderal Abdel Fatah Younis, mengatakan perang tengah memasuki tahap menentukan.
''Pertempuran memperebutkan Ajdabiya sangat penting bagi kami,'' kata sang panglima dalam konferensi pers di Benghazi hari Minggu.
''Kami merasakan bahwa musuh akan menghadapi masalah logistik serius untuk memasok pasukan mereka,'' tambah dia.
Selagi pertempuran bertambah dekat ke kota Benghazi, potensi lebih banyak korban sipil jatuh semakin besar, terutama jika pesawat Kolonel Gaddafi bisa bergerak tanpa hambatan, kata wartawan kami.
Tekanan diplomatik internasional semakin kuat untuk menggolkan zona larangan terbang di atas Libia, setelah Liga Arab sepakat meminta Dewan Keamanan PBB menegakkan zona semacam itu.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk mencegah pasukan Kolonel Gaddafi menggunakan pesawat tempur untuk menyerang posisi-posisi pemberontak, meski belum ada kesepakatan mengenai cara mencapai tujuan tersebut.
Nato sebelumnya menyatakan gagasan itu memerlukan dukungan regional dan internasional sebagai syarat utama sebelum zona larangan terbang digulirkan.
Rusia dan Cina -yang memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB- menyatakan keberatan serius atas kebijakan ini.
Namun, hari Senin, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan dia ingin memperoleh informasi lebih banyak dari proposal Liga Arab.
Turki, satu-satunya negara Nato dari kalangan negara muslim, menentang keras gagasan tersebut. Turki memperingatkan intervensi militer asing bisa menimbulkan ''hasil-hasil yang berbahaya''.





























