Iran kecam tentara asing di Bahrain

Iran mengecam pengerahan pasukan dari negara-negara Teluk tetangga Bahrain dan menyebutnya sebagai "tidak bisa diterima".
Sekitar 1.000 tentara dari Arab Saudi ditambah 500 tentara dari Uni Emirat Arab tiba di Bahrain pada hari Senin (14/03) setelah diundang pemerintah negara itu.
Iran -yang merupakan negara Shiah terkuat di Teluk- mengatakan pengerahan pasukan asing itu sebagai "ikut campur".
"Kehadiran pasukan asing dan turut campur dalam masalah dalam negeri Bahrain tidak bisa diterima dan malah akan semakin memperumit masalah," ujar juru bicara Kementrian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast.
"Rakyat Bahrain memiliki tuntutan, yang sesuai dengan hukum dan dikemukakan dengan damai," ujarnya.
"Reaksi dalam bentuk kekerasan terhadap tuntutan yang sah ini harus dihentikan."
Para pengunjuk rasa menutup seluruh jalan menuju pusat keuangan di ibukota Bahrain, yang menjadi lokasi bentrokan hari Minggu (13/03).
Wartawan BBC di Manama mengatakan para pengunjuk rasa mendirikan barikade berupa tumpukan tempat sampah di pusat bisnis itu, dan sebagian dari mereka mengenakan penutup muka.
Para pengunjuk rasa menuntut reformasi politik menyeluruh di kerajaan ini. Warga muslim Shiah yang mayoritas sejak lama mengeluh mendapat perlakuan diskriminatif di Bahrain yang dikuasai oleh warga Sunni yang minoritas, termasuk keluarga kerajaan.
Oposisi pimpinan kubu Shiah mengatakan kedatangan tentara negara-negara teluk -yang membuat Bahrain menjadi negara Arab pertama yang meminta bantuan militer pihak luar dalam menghadapi gelombang aksi protes- merupakan satu pernyataan perang.
Tentara ini dikerahkan oleh Dewan Kerjasama Teluk, satu kelompok enam negara yang terdiri dari Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar dan Uni Emirat Arab.





























