Pertempuran sengit di Brega, Libia

Sumber gambar, AFP
Pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak di Libia masih berlanjut untuk memperebutkan kota minyak Brega.
Kedua belah pihak sempat sama-sama mengklaim menguasai kota tersebut.
Seorang utusan PBB untuk Libia, menghimbau pemerintah menghentikan kekerasan menanggapi tuntutan oposisi dan memberikan akses secepat mungkin bagi bantuan kemanusiaan.
Di Libia Barat, pasukan pemerintah memasuki kota Zuwara yang dikuasai oleh pemberontak dan menjatuhkan bom-bom di kota Misrata.
Tetapi fokus sekarang sudah beralih ke kota Ajdabiya di Libia Timur, kota terakhir sebelum memasuki Benghazi, pangkalan oposisi.
Wartawan BBC Jon Leyne yang berada di Benghazi mengatakan tampaknya pasukan pemberontak bersembunyi di didalam intalasi minyak di Brega selama siang hari karena mereka yakin pemerintah tidak akan mau menjatuhkan bom-bom di kompleks tersebut.
Sumber-sumber oposisi juga mengatakan terjadi perpecahan antara pejabat tinggi pemerintah dan itu tercermin dari sikap beberapa anggota pasukan yang tampaknya enggan menembak warga biasa, tambah koresponden BBC.
AS bertemu pemimpin oposisi
Utusan PBB Abdul Ilah Khatib sudah bertemu dengan menteri luar negeri Libia, Moussa Kusa di ibukota Tripoli.
Dalam pertemuan itu, Khatib yang juga mantan menteri luar negeri Yordania mengulangi kembali tuntutan agar kekerasan dihentikan dan agar badan-badan kemanusiaan diberi akses, kata jurubicara PBB.
Para menteri luar negeri dari kelompok negara-negara industri G8 membahas krisis di Paris, tetapi koresponden BBC disana mengatakan sudah jelas bahwa ada perpecahan mengenai apakah campur tangan itu akan efektif.
Prancis mendesak agar masyarakat internasional memberlakukan zona larangan terbang di wilayah udara Libia.
Langkah ini , menurut Prancis, akan membuat semua pesawat Libia tak bisa terbang untuk melindungi rakyat biasa dari serangan udara yang dilancarkan pasukan yang setia pada Kolonel Gaddafi.
Tetapi Amerika, Rusia dan negara-negara Uni Eropa menanggapi usulan ini dengan hati-hati menjelang pertemuan mereka di Paris.
Menteri luar negeri AS Hillary Clinton yang menghadiri pertemuan di Paris, sudah bertemu dengan pemimpin oposisi yang baru di Libia, Mahmoud Jibril selama 45 menit di sebuah hotel di Paris dan membahas bagaimana Amerika Serika bisa membantu selain soal bantuan kemanusiaan.





























