Menlu Libia melarikan diri ke London

Moussa Koussa

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Moussa Koussa dilaporkan mengatakan tidak mau mewakili rezim Gaddafi lagi

Menteri Luar Negeri Libia Moussa Koussa, salah satu pembantu terdekat Kolonel Muammar Gaddafi, telah tiba di London dan mengatakan kepada para pejabat Inggris dia mundur dari jabatannya, demikian diumumkan Kementrian Luar Negeri Inggris.

Kemenlu Inggris mengatakan, Koussa sudah mengindikasikan dia tidak mau lagi mewakili rezim Gaddafi di panggung internasional.

Koussa terbang dari bandara Djerba di Tunisia menuju Inggris, lansir kantor berita Tunisia, TAP.

Redaktur urusan politik BBC Nick Robinson mengatakan, Koussa tiba di bandar udara Farnborough di Hampshire pada hari Rabu siang waktu setempat dan sudah diinterogasi, kemungkinan oleh pejabat intelijen Inggris.

"Yang belum jelas adalah, apakah dia datang hanya untuk melarikan diri saja atau untuk memainkan peran yang lebih luas dalam gerakan oposisi terhadap Kolonel Gaddafi," katanya.

'Tidak membelot'

Juru bicara pemerintah Libia mengatakan Koussa, yang sudah dua tahun menjadi menteri luar negeri, tidak membelot tetapi dalam kunjungan keluar negeri dalam misi diplomatik.

"Dia dalam perjalanan misi diplomatik," ujar juru bicara Libia Mussa Ibrahim seperti dikutip kantor berita Reuters. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut rinciannya.

Menurut Reuters Koussa adalah arsitek perubahan politik luar negeri Libia yang mengembalikan negara ini ke masyarakat internasional setelah bertahun-tahun dikenakan sanksi.

Wilayah udara Libia ditutup untuk semua penerbangan sejak pemberlakuan mandat PBB untuk zona larangan terbang.

Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan tidak mengetahui sebelumnya mengenai kedatangan Koussa ini.

Kedatangan Koussa ini terjadi di hari yang sama setelah Inggris mengatakan telah mengusir lima diplomat Libia.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan di depan parlemen Inggris bahwa kelima diplomat itu, termasuk atase militer, "bisa menjadi ancaman" bagi keamanan Inggris.

Sebelumnya Perdana Menteri David Cameron mengatakan Inggris tidak menutup kemungkinan memasok senjata kepada pemberontak dalam "keadaan tertentu" tetapi keputusan tersebut masih belum bulat.

Inggris sudah terlibat dalam lebih dari 160 misi udara serta serangan peluru kendali ke Libia sejak operasi koalisi dimulai 19 Maret.