Turki bantu evakuasi korban perang Libia

korban_libia

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Banyak korban di Misrata mengalami luka yang sangat serius.

Kapal bantuan kemanusiaan Turki yang berada di Libia berhasil mengangkut sekitar 250 korban luka yang berada di Misrata untuk dibawa ke Benghazi, kota yang saat ini dikuasai oleh pemberontak.

Misrata adalah satu-satunya wilayah yang masih dikuasai oleh pemberontak dan sudah berada dalam kepungan pasukan yang setia kepada pemimpin Libia Kolonel Muammar Gaddafi selama bermingu-minggu.

Kepada Wartawan BBC, John Leyne, Dokter yang menangani para korban dari kapal tersebut mengatakan banyak dari korban yang berada dalam kondii luka yang sangat serius.

Sejumlah korban bahkan ada yang bagian tubuhnya harus diamputasi untuk menghindari luka yang lebih parah.

Seorang anak lelaki berusia 13 tahun juga mengaku mengalami luka akibat tembakan penembak jitu dari kelompok pasukan pemerintah.

Para korban menceritakan sebagaian besar wilayah di Misrata sudah tidak lagi mendapat pasokan listrik dan air.

Kondisi ini diperparah oleh ancaman aksi para penembak jitu dari kelompok tentara yang setia kepada pemerintah.

Akhiri pertempuran

Untuk membantu para korban pada hari Minggu kemarin (3/4), kapal milik Turki ini harus menunggu hingga empat hari sebelum dibolehkan merapat ke pelabuhan di wilayah tersebut.

Sepuluh pesawat F16, dua kapal fregat dan sejumlah pasukan khusus Turki tampak terlihat mengawal misi bantuan kemanusiaan ini.

Selain membantu mengevakuasi para korban ke Benghazi, kapal bantuan milik Turki juga mengangkut sejumlah persediaan obat-obatan untuk keperluan para dokter yang bertugas di rumah sakit di Misrata.

Sejumlah pertempuran antara pasukan pemberontak dengan pemerintah dilaporkan masih terjadi di sejumlah, salah satunya adalah di sebelah timur kota minyak, Brega.

Pasukan pemerintah saat ini masih bertahan di sekitar lokasi dekat Universitas di kota tersebut.

Sejumlah artileri berat juga ditembakan dari kawasan itu, pasukan pemberontak sendiri masih kesulitan untuk mendesak pasukan pemerintah keluar dari wilayah itu.

Kurangnya persenjataan dan pasukan yang belum terorganisasi dengan baik menjadi dua hal yang melemahkan pasukan pemberontak.

Namun ditengah sengitnya pertempuran tersebut Deputi Menteri Luar Negeri Libia, Abdul Ati al-Obeidi, dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Yunani yang mengatakan bahwa Gaddafi ingin mengakhiri pertempuran ini.

"Sepertinya Pemerintah Libia sedang mencari solusi," kata Menteri Luar Negeri Yunani Dimitris Droutsas kepada wartawan