Presiden Iran disoroti politisi soal boikot

Sumber gambar, khamenei.ir
Kalangan anggota parlemen Iran menyoroti ketidakmunculan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam beberapa tugas resminya.
Presiden Ahmadinejad sudah berhari-hari tidak terlihat di kantornya.
Dia juga tidak hadir dalam dua rapat kabinet, dan membatalkan kunjungan ke kota suci warga Syiah, Qom.
Rangkaian kejadian yang dipandang sebagai boikot ini dikait-kaitkan dengan hubungan Ahmadinejad dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Khamenei baru-baru ini mengangkat kembali seorang menteri yang didepak oleh Presiden Ahmadinejad.
Kalangan pengamat politik yakin perebutan pengaruh tengah berlangsung di tubuh pemerintah.
Seorang anggota parlemen yang berhaluan konservatif, Gholamreza Mesbahimoghadam, mengatakan kepada parlemen hari Sabtu: ''Biarkan Majlis [parlemen] melakukan tugas syahnya.''
Pernyataan ini adalah seruan tersamar agar sang presiden dimakzulkan, kata wartawan BBC Mohsen Asgari di ibukota Iran, Tehran.
Beberapa anggota parlemen menuduh para pendukung Ahmadinejad menekan para menteri agar menandatangani surat yang menyatakan mereka mendukung sang presiden dalam menghadapi pemimpin tertinggi Iran.
Ketegangan yang merebak antara kubu pendukung kedua tokoh mencuat ke permukaan pada 17 April, ketika Menteri Intelijen Heidar Moslehi dipaksa mengundurkan diri, kata wartawan kami.
Tidak lama kemudian Moslehi dikembalikan ke posisinya oleh pemimpin tertinggi.
Menurut konstitusi Iran, presiden berkuasa menunjuk menteri, namun menteri yang diangkat perlu mendapat persetujuan dari parlemen.
Dalam sepucuk surat, hampir 300 anggota parlemen meminta Presiden Ahmadinejad menghormati keputusan Ayatullah Khamenei.
Ketika Presiden Ahmadinejad tidak hadir dalam rapat kabinet, Moslehi hadir dalam rapat serupa hari Minggu (1/5), lapor kantor berita Associated Press.





























