Jepang: PLTN Fukushima tutup Januari

Sumber gambar, AP
Jepang masih merasa yakin dapat mengakhiri krisis nuklir dalam waktu beberapa bulan.
Namun Jepang mengakui kerusakan yang disebabkan gempa dan tsunami bulan Maret lebih buruk dari perkiraan semula.
Pemerintah dan operator PLTN Fukushima Daiichi baru-baru ini mengungkapkan bahwa reaktor No. 1 nyaris meleleh pada jam-jam pertama bencana.
Namun mereka masih yakin "penutupan PLTN" masih memungkinkan bulan Januari nanti.
Krisis ini memaksa 80.000 orang yang tinggal dalam radius 20 kilometer untuk mengungsi.
Pengungsian pekan ini dimulai dari kota-kota lebih jauh dari PLTN di Jepang utara.
Pemerintah Jepang mengatakan meningkatnya radiasi mengancam kesehatan, kata wartawan BBC di Tokyo Roland Buerk.
Lantai meleleh

Sumber gambar, AP
Dalam beberapa hari ini operator PLTN menyatakan kerusakan yang dialami reaktor setelah gempa skala 9,0 dan tsunami lebih buruk dari perkiraan sebelumnya.
Para pejabat dari Tokyo Electric Power Company (Tepco) menyebutkan bahwa batang bahan bakar di reaktor itu mulai meleleh enam jam setelah tsunami 11 Maret menghantam sistem pendingin.
Dalam tempo 16 jam bahan bakar di reaktor satu melelehkan lantai ruang tempat reaktor itu sehingga menimbulkan lubang. Akibatnya, 3000 ton air yang tercemar bocor ke ruang bawah tanah gedung itu.
Para pejabat mengatakan, bahan bakar reaktor nomor dua dan tiga juga terbuka ke udara dan mungkin juga meleleh.
Temuan itu menyebabkan Tepco meninggalkan rencana membanjiri reaktor dengan air untuk mendinginkannya dalam proses yang disebut "penguburan air".
Sebaliknya, kata wartawan BBC, para pekerja akan berusaha membuat sistem pendingin yang stabil dengan memutar air yang ada di sana.
Sejumlah pakar khawatir air itu mengancam air tanah dan Samudra Pasifik.
Tepco juga mengatakan akan meningkatkan pemantauan radiasi di perairan di dekatnya dan mempelajari cara mencegah pencemaran air tanah.





























