Sudan Utara bombardir Kordofan Selatan

Sebuah truk melewati deretan rumah yang hangus akibat pemboman di Kordofan Selatan.

Sumber gambar, 1

Keterangan gambar, Sebuah truk melewati deretan rumah yang hangus akibat pemboman di Kordofan Selatan.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menuding pemerintah Sudan Utara melakukan menghujani perbatasannya Sudan Selatan dengan bom.

Serangan bom ini, menurut PBB, mengakibatkan penderitaan masyarakat sipil di Kordofan Selatan. Tak kurang dari 140.000 orang mengungsi akibat serangan itu.

"Kami sangat prihatin atas terjaninya serangan bom ini yang mengakibatkan penderitaan warga sipil dan membahayakan misi-misi kemanusiaan," kata juru bicara misi PBB di Sudan Kouider Zerrouk seperti dikutip AFP.

Zerrouk menambahkan dua buah bom mendarat di dekat markas PBB di Kauda, tak jauh dari sebuah lapangan udara kecil yang kemungkinan menjadi target pemboman.

Serangan bom yang sudah berlangsung selama sepekan itu terjadi setelah Sudan Utara dan Selatan sepakat menarik militer mereka dari kota Abyei yang disengketakan.

Pasukan Sudan Utara diduga mengincar kelompok pro Selatan, pada saat Sudan Selatan yang kaya minyak mempersiapkan kemerdekaannya bulan depan.

Meski Kordofan Selatan adalah bagian Sudan Utara, namun di kawasan itu - terutama di Pegungunan Nuba- banyak tinggal kelompok pro-Selatan yang ikut memerangi Utara selama perang saudara.

Etnis Nuba diburu

Menurut para pekerja sosial di Sudan, pasukan Sudan Utara dan milisi Arab sebenarnya mengincar warga etnis Nuba.

"Mereka diburu karena beretnis Nuba," kata penasihat dewan gereja Sudan, John Ashworth kepada BBC.

John mengatakan di banyak wilayah yang ditinggali etnis Nuba dihujani bom dan warga terpaksa mengungsi ke pegunungan untuk menyelamatkan diri.

Namun tudingan ini dibantah penasihat Kementerian Penerangan Sudan, Rabbie Adbelattif Ebaid. Dia mengatakan pasukan pemerintah hanya mengincar para pemberontak.

Sementara itu aktivis Amnesty International Tawanda Hondora curiga pemerintah Sudan Utara tengah menjalankan sebuah rencana untuk menyingkirkan semua orang di Kordofan Selatan, Abyei dan di tempat lainnya yang dianggap mendukung Sudan Selatan.

Sebelumnya, pembicaraan kembali berlangsung antara para pejabat tinggi pemerintahan Sudan Utara dan Selatan setelah kedua belah pihak bersedia mundur dari Abyei.

Presiden Sudan Utara Omar al-Bashir dan Pemimpin Sudan Selatan Salva Kiir sepakat untuk menjadikan Abyei sebagai wilayah demiliterisasi dengan pasukan Ethiopia menjadi penjaga perdamaian.