Pemberontak Libia sambut tawaran Uni Afrika

Sumber gambar, BBC World Service
Pimpinan kelompok pemberontak Libia menyambut baik tawaran dari Uni Afrika untuk membuka pembicaraan damai dengan pemerintah Libia di Tripoli tanpa adanya keterlibatan langsung Muammar Gaddafi.
Dewan Transisi Nasional, TNC, mengatakan bahwa Uni Afrika dengan tawaran tersebut telah menunjukan untuk pertama kalinya mereka memahami aspirasi rakyat Libia yang menginginkan adanya demokrasi dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia.
Pembicaraan soal tawaran ini sebelumnya disepakati oleh pemimpin negara-negara yang tergabung dalam Uni Afrika di Malabo, Equatorial Guinea.
Namun sebelum mencapai kesepakatan itu, sempat terjadi perdebatan panjang diantara sejumlah pemimpin negara anggota tentang tawaran pembicaraan damai tanpa keterlibatan Kol.Gaddafi.
Dalam pertemuan tersebut, Uni Afrika juga sepakat untuk tidak mengeksekusi perintah penangkapan terhadap Kolonel Gaddafi seperti yang diperintahkan oleh Mahkamah Kejahatan Internasional, ICC.
Delegasi negara anggota Uni Afrika dalam pernyataanya mengatakan bahwa perintah penangkapan itu telah mengakibatkan komplikasi yang serius dalam upaya negosiasi politik untuk penyelesaian krisis di Libia yang juga mengedepankan cara saling memperkuat di kedua belah pihak ketika nantinya membicarakan sejumlah isu seperti impunitas dan rekonsiliasi.
Ketua Komisi Uni Afrika, Jean Ping mengatakan bahwa mereka tidak melawan keputusan yang dkeluarkan ICC itu namun mereka merasa keputusan tersebut "diskriminatif" dan hanya menargetkan sejumlah pejabat pemerintahan dari kawasan Afrika.
Sejumlah syarat
Pendapat Uni Afrika soal soal keputusan ICC kali ini disepakati oleh 31 negara anggotanya.
Jumlah tersebut hampir sepertigadari anggota Uni Afrika dan akan menjadi mandat untik diterapkan oleh negara-negara anggotanya.
Keputusan ini juga disambut baik pemerintah Libia.
Butir kesepakatan lainnya yang juga diserukan oleh Uni Afrika adalah segera dilakukannya gencatan senjata dan mencabut zona larangan terbang yang sekarang menjadi jalan bagi militer Nato untuk melakukan intervensi.
Kedua belah pihak yang bertikai juga diminta mengajukan permohonan kepada PBB untuk mengirimkan pasukan perdamaiannya dalam mengawasi pelaksanaan penghentian permusuhan ini.
Permintaan itu disetujui oleh kelompok pemberontak Libia dengan sejumlah syarat.
Mereka meminta sejumlah jaminan dari Uni Afrika sebelum mereka setuju untuk melakukan genjatan senjata.
Wakil dari TNC, Mansour Saif al-Nasr, kepada wartawawan mengatakan mereka akan mengakhiri serangan jika Kol. Gaddafi mundur dari jabatannya.
"Jika kami melihat Gaddafi mundur, maka kami siap untuk menghentikan serangan dan melakukan negosiasi dengan saudara kami yang saat ini ada di sekitar Gaddafi," katanya.





























