Pemberontak Libia klaim punya 'kontak rahasia' di Tripoli

Sumber gambar, Reuters
Pemberontak Libia di kawasan timur negara itu mengklaim punya kontak rahasia dengan kelompok jaringan bawah tanah anti Kolonel Muammar Gaddafi di Tripoli.
Salah-seorang pemimpin pemberontak di Benghazi mengatakan, pembicaraan rahasia itu terus dilakukan sebagai persiapan kalau rezim Gaddafi kehilangan kekuasaan.
Jumlah simpatisan mereka di Tripoli disebut ada sekitar seratus orang.
Salah-seorang pimpinan pemberontak Alami Belhaj mengatakan, kontak rahasia melalui jaringan internet Skype dan telepon satelit itu aman, "karena sejauh ini tidak ada yang tertangkap".
"Kami berbicara sekitar satu jam tiap malam, dengan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka menceritakan apa saja yang mereka dengar atau lihat, di jalanan atau di mesjid-mesjid," ungkap Belhaj.
Belhaj dipercaya memimpin jaringan klandestin kelompok pemberontak, karena pengalamannya memimpin oposisi anti Gaddafi yang berbasis di Manchester, Inggris.
Dia disebut pula sebagai anggota terkemuka Persaudaraan Muslim yang dilarang oleh rezim Gaddafi.
"Kami memiliki pengalamanbekerja di bawah tanah. Dalam 30 tahun, kami tidak pernahdisusupi," katanya lagi.
Lebih lanjut Belhaj mengatakan, seorang simpatisan bercerita bahwa ada tanda-tanda dukungan terhadap Gaddafi tidak sekuat dulu.
Salah-satu indikasinya adalah bahwa jumlah milisi pro Gaddafi turun draktis.
"Karena itulah, kami 100% yakin bahwa pemberontakan di Tripoli tinggal menunggu waktu saja," kata Belhaj.
Namun Belhaj khawatir Gaddafi telah menyiapkan skenario jika perubahan politik itu betul-betul terjadi.
"Saya yakin dia akan menyiapkan rencana tertentu bila dia meninggalkan Tripoli."
Apabila ini terjadi, Belhaj khawatir terjadi pertumpahan darah setelah Gaddafi turun dari kursinya.
"Kami harus punya rencana menyeluruh untuk menyiapkan skenario kalau dia betul-betul turun dari kekuasaan, misalnya dengan sekarang kita berupaya kontak dengan kaum profesional dan teknokrat, utamanya dengan perwira polisi dan tentara yang masih loyal pada Gaddafi."





























