AS: Assad sudah kehilangan legitimasi

Sumber gambar, Reuters
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, mengatakan Presiden Suriah, Bashar al-Assad telah kehilangan legitimasinya.
Pernyataan ini dikeluarkan Clinton di tengah memanasnya suhu diplomatik antara kedua negara, setelah kelompok massa menyerang kedutaan besar AS di Damaskus, Senin (11/7).
"Presiden Assad sudah tak bernilai lagi dan kami tidak memiliki kepentingan apapun untuk mempertahankan dia di tampuk kekuasaan," kata Clinton di Washington.
"Tujuan kami adalah mewujudkan keinginan rakyat Suriah melakukan transformasi demokrasi," tambah dia.
Wartawan BBC di Washington Kim Ghattas melaporkan pernyataan Clinton yang disusun dengan sangat cerdas itu mungkin saja bisa menambah keyakinan warga Suriah untuk meninggalkan Assad.
Di sisi lain, lanjut Ghattas, Washington memberikan peluang bagi rakyat Suriah untuk menentukan sendiri pemimpinnya di masa datang.
AS tuntut ganti rugi
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Victoria Nuland mengatakan seorang diplomat Suriah akan dituntut terkait penyerangan terhadap kedubes AS di Damaskus.
Selain itu, lanjut Nuland, pemerintah AS juga akan menuntut ganti rugi atas kerusakan kantor kedubes dan kediaman Duta Besar Robert Ford.
Tak hanya kedubes AS yang menjadi sasaran massa pro Assad, kantor perwakilan Prancis juga diserang. Bahkan massa menurunkan bendera Prancis di kantor kedubes dan diganti dengan bendera Suriah.
Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan tak hanya bangunan kedubes yang rusak, sejumlah staff kedubes juga terluka.
Dan untuk mencegah perusakan lebih lanjut, juru bicara Kemenlu Prancis Bernard Valero mengatakan pasukan keamanan kedubes harus melepaskan lima kali tembakan peringatan.
"Seharusnya bukan cara ilegal seperti itu yang digunakan pemerintah Damaskus mengalihkan perhatian dunia dari persoalan yang mendasar," kata Valero.
Pemerintah Damaskus, lanjut Valero, seharusnya menghentikan tindakan represif yang dilakukan terhadap rakyat Suriah.
Kedubes AS dan Prancis di Damaskus diserang kelompok massa pro pemerintah setelah utusan kedua negara mengunjungi kota Hama, pekan lalu.
Kunjungan ini mendapat kritik keras dari media massa Suriah.





























