Tentara Suriah tembak mati pengunjuk rasa

Sumber gambar, Reuters
Aparat keamanan Suriah hari Selasa (5/7) dilaporkan menembak mati setidaknya tiga pengunjuk rasa antipemerintah di kota Hama.
Para aktivis mengatakan tank-tank masih mengepung kota namun tidak sampai bergerak masuk.
Kantor berita AP memberitakan warga menempatkan penghalang jalan untuk mencegah tank-tank tersebut memasuki kota.
"Warga membakar ban, menempatkan karung-karung pasir agar militer tidak bisa bergerak maju," kata Rami Abdul-Rahman, pegiat HAM Suriah di London kepada AP.
"Ada pembangkangan sipil di Hama. Mereka berupaya menghentikan tank atau kendaraan militer lain," ungkap Abdul-Rahman.
Lebih dari 20 orang ditangkap pada hari Senin dalam upaya untuk merebut kota tersebut.
Pengaruh militer
Pada hari itu militer menutup semua jalan masuk menuju Hama dalam upaya untuk mengambil alih kotat, sebulan setelah pasukan pemerintah mundur.
Pada hari Sabtu Presiden Bashar Assad memecat gubernur Hama setelah aparat keamanan gagal mencegah aksi demonstrasi terbesar dalam sejarah pemerintahan Assad.
Aksi ini diikuti sekitar 300.000 warga dan beberapa pihak mengatakan ini menandakan pengaruh pemerintah makin kecil di Hama.
Hama yang terletak di Suriah barat menjadi salah satu pusat gerakan antipemerintah.
Di kota ini pecah aksi unjuk rasa sejak Maret lalu, tidak lama setelah aksi protes besar-besaran di Tunisia dan Mesir yang menumbangkan pemimpin kedua negara tersebut.
Ayah Presiden Bashar Assad, Hafez, menumpas perlawanan di Hama hampir tiga dasawarsa lalu, menewaskan antara 10.000 dan 25.000 orang, kata para pegiat HAM.
Preman bersenjata
Aksi di Hama kali ini telah berlangsung selama 14 pekan dan meski pemerintah menggunakan kekuatan, aksi menentang rezim belum juga bisa ditumpas.
Para pegiat mengatakan aparat keamanan telah menewaskan 1.400 orang - sebagian besar pengunjuk rasa tak bersenjata - sejak pertengahan Maret lalu.
Pemerintah menyangkal data tersebut dan menyebut korban sebagai preman-preman bersenjata dan aktor intelektual asing.
Assad menjanjikan berbagai reformasi, sesuatu yang hampir mustahil ia lakukan sebelum gerakan rakyat muncul.
Ia telah mencabut keadaan darurat, yang memberi kewenangan kepada negara untuk menangkap orang tanpa dakwaan. Presiden juga berjanji akan segera menggelar dialog nasional.
Namun para pengunjuk rasa yang kian marah atas jatuhnya korban, menegaskan aksi mereka akan berakhir bila Presiden Assad mundur dari kekuasaan.
Suriah melarang hampir semua media asing sehingga perkembangan di lapangan hampir mustahil diverikasi secara independen.





























