Presiden Meksiko tolak tuduhan melanggar HAM

Sumber gambar, AP
Presiden Meksiko Felipe Calderon membela kinerja aparat keamanannya dari tuduhan melakukan tindakan kekerasan berlebihan dalam memerangi kartel narkoba.
Kelompok penekan hak asasi manusia, Human Rights Watch, sebelumnya menyatakan pasukan keamanan Meksiko melakukan pelanggaran yang meluas dalam memerangi kelompok kriminal narkoba.
Atas tuduhan ini, Presiden Calderon mengatakan, praktek pelanggaran HAM justru dilakukan para pelaku kriminal, yang membuat negara wajib untuk menghadapinya.
Meskipun demikian, Calderon menambahkan, aparatnya menghormati hak-hak mendasar tersebut dalam melakukan tugasnya.
Pemerintah Meksiko menurutnya juga terus bekerja untuk mereformasi lembaga kepolisian dan pengadilan agar mereka dapat memenuhi standar tersebut.
Dalam laporannya Rabu (9/11), Human Rights Watch mengungkapkan, aparat kepolisian dan militer Meksiko melakukan pelanggaran berupa pembunuhan dan penyiksaan terhadap warga sipil selama diberlakukan maklumat perang terhadap kartel narkoba.
"Alih-alih mengurangi kekerasan, 'perang terhadap narkoba' Meksiko telah mengakibatkan peningkatan pembunuhan, penyiksaan dan pelanggaran mengerikan lainnya secara dramatis," kata Jose Miguel Vivanco, direktur Human Rights Watch yang bermarkas di AS.
Lima jenis kekerasan
Dalam laporan setebal 200 halaman yang dirilis di Meksiko City, mengungkapkan, sedikitnya ada lima jenis kekerasan yang dilakukan aparat militer Meksiko.
Mereka menyebutkan, sejak Calderon menduduki kursi Presiden pada Desember 2006 lalu, sedikitnya ada 170 kasus penyiksaan, 34 perkara penghilangan paksa, serta 39 kasus pembunuhan misterius.
Laporan ini didasarkan hasil wawancara lebih dari 200 orang korban, serta para pejabat terkait.
Upaya penyelidikan otoritas terkait terhadap dugaan pelanggaran oleh aparat keamanan juga dianggap tidak memadai.
Penggunaan peradilan militer untuk memeriksa para tersangka dari kesatuan militer juga dikritik.
Setelah menjadi presiden pada 2006, Calderon telah mengerahkan sekitar 50.000 tentara dan polisi untuk memerangi kelompok kriminal obat bius.
Data pemerintah Meksiko menyebutkan, ada lebih dari 45.000 orang tewas akibat kekerasan terkait kartel obat bius.
Pegiat HAM, seperti tertera dalam laporan itu, meragukan klaim pemerintah yang menyebut 90 persen dari kejadian kekerasan itu akibat korban kejahatan kelompok kriminal obat bius.





























