Liga Arab beri Suriah waktu tiga hari

Sumber gambar, BBC World Service
Liga Arab memberi Suriah tempo tiga hari untuk "menghentikan aksi represi berdarah" terhadap gelombang pemrotes serta agar negara itu mengizinkan masuknya tim pengamat asing.
Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Hamad Bin Jassim al-Thani mengatakan kalau Suriah membandel, akan ada sanksi terhadap pembangkangan ini.
Dalam pertemuan liga Arab di Maroko, Sheikh Hamad mengatakan upaya diplomatis terhadap konflik di Suriah sudah "mendekati ujung akhir".
Bersamaan dengan jalannya pertemuan itu, massa yang marah di Damaskus menyerang kedutaan besar Maroko serta Uni Emirat Arab.
Segera setelahnya Maroko memanggil pulang duta besarnya untuk Suriah, tulis kantor berita AFP.
Sementara langkah serupa juga ditempuh Prancis. Menteri Luar Negeri Alain Juppe kepada parlemen mengatakan: "Muncul gelombang kekerasan baru di Suriah, yang memaksa saya menutup kantor konsuler di Aleppo dan Latakia juga pusat kebudayaan dan memanggil pulang duta besar kita ke Paris."
Sheikh Hamad yang ditanya apakah usulan Liga Arab ini merupakan upaya terakhir untuk menyelesaikan konflik lewat jalur diplomasi, mengatakan dalam sebuah acara jumpa pers di Maroko: "Kami tidak ingin bicara soal upaya terakhir karena kami tidak mau proposal ini terdengar seperti peringatan. Yang bisa saya katakan adalah kami sudah mendekati ujung akhir terkait upaya yang bisa dilakukan (Liga Arab) dalam hal diplomasi."
Tentara pembelot
Peryataan Liga Arab ini muncul hanya berselang beberapa jam setelah muncul laporan yang menyebut tentara perlawanan Suriah menyerbu sebuah markas militer besar di dekat Damaskus.
Turki, yang bukan negara anggota Liga Arab, mengirim Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu untuk sebuah agenda pertemuan kerjasama Turki-Arab yang berlangsung bersisian dengan pertemuan Liga Arab di Rabat.
Negara itu terletak berbatasan langsung dengan Suriah dan belakangan makin kritis terhadap kebijakan rezim Presiden Bashar al-Assad terhadap publik yang melawannya.

Sumber gambar, BBC World Service
Dalam sebuah pernyataan bersama baik forum Turki-Arab menuntut agar "diambil langkah segera... untuk memastikan perlindungan terhadap warga sipil" serta mengumumkan bahwa forum ini "menentang segala bentuk intervensi asing di Suriah".
Sejumlah pegiat Suriah menyebut para tentara yang membelot dn membentuk Pasukan Pembebasan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di kantor Pusat Intelejen Angkatan Udara di wilayah pinggiran Damaskus di Harasta.
Menurut laporan yang belum bisa dikonfirmasi, akibat serangan itu enam tentara pemerintah Suriah tewas.
Komandan Pasukan Pembebasan Suriah, Ryad al-Asa'ad, yang saat ini menetap di Turki, mengatakan pada BBC Siaran Bahasa Arab bahwa masyarakat internasional telah mengecewakan dalam pertempuran melawan rezim penguasa.
"Saat ini tak ada satu pun negara di dunia yang membantu," keluh al-As'ad.
"Bahkan Turki tidak pernah menawari kami satu butir peluru pun, melarang ada operasi (bersenjata) di perbatasan, atau di jalan menuju perbatasan. Di sisi lain, kami bekerja dari dalam Suriah, kami beroperasi di Suriah dan senjata yang kami pakai juga dari Suriah."
Dia juga mengklaim bahwa makin banyak tentara membelot.





























