Puluhan ribu orang berunjuk rasa di Rusia

Sumber gambar, AP
Puluhan ribu orang turut serta dalam aksi unjuk rasa besar-besaran di ibukota Rusia, Moskow yang dianggap sebagai aksi demonstrasi terbesar sejak runtuhnya Uni Soviet.
Kelompok komunis, nasionalis dan liberal pro barat yang biasanya berseteru kini terlihat bersatu menyuarakan dugaan kecurangan pemilu parlemen dan menuntut pemilu ulang.
Wartawan BBC di Moskow Daniel Sanford melaporkan sedikitnya 50.000 orang berkumpul di dekat Kremlin penetapan Partai Rusia Bersatu pimpinan Vladimir Putin sebagai pemenang pemilu.
Resolusi untuk menolak pengumuman pemenang pemilu yang dijadwalkan pada Minggu (11/12) waktu setempat, sudah dicanangkan para pengunjuk rasa.
Selain itu, para demonstran juga menuntut dilaksanakannya pemungutan suara ulang, pengunduran diri ketua komisi pemilu Vladimir Churov dan menyelidiki dugaan kecurangan dan membebaskan para pengunjuk rasa yang ditahan.
Sebelumnya, polisi menahan sedikitnya 1.000 pengunjuk rasa yang menggelar aksi tak lama setelah hasil pemungutan suara diumumkan pada Jumat (9/12), salah satunya adalah aktivis anti korupsi Alexei Navalny.
Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin selama satu dekade kekuasaannya tak pernah menghadapi aksi unjuk rasa sebesar ini.
Selama menjabat presiden dan kemudian perdana menteri, Putin selalu nampak sebagai politisi paling populer dan paling berpengaruh di Rusia.
Namun, seperti yang dikatakan seorang pengunjuk rasa kepada wartawan BBC, Rusia sudah berubah.
Pemerintah tolak negosiasi

Sumber gambar, AP
Menanggapi aksi unjuk rasa besar-besaran ini nampaknya pemerintah Rusia bersikukuh tidak akan memenuhi tuntutan para demonstran.
"Dengan segala hormat kepada rakyat yang berunjuk rasa, mereka bukanlah partai politik," kata seorang anggota parlemen Partai Rusia Bersatu, Konstantin Kosachyov mewakili Kremlin.
Pemerintah mengizinkan rakyat menggelar unjuk rasa asalkan aksi itu dipindah dari Lapangan Revolusi ke Lapangan Bolotnaya, sebuah pulau di tengah Sungai Moskow di sebelah selatan Kremlin yang mudah dikendalikan aparat keamanan.
Dalam aksi ini sejumlah nama terkenal dalam dunia politik Rusia terlihat mulai dari aktivis muda seperti Yevgenia Chirikova hingga mantan PM Mikhail Kasyanov dan mantan deputi perdana menteri di zaman Boris Yeltsin, Boris Nemtsov.
Sejauh ini belum diketahui adanya penangkapan yang dilakukan terkait unjuk rasa besar ini, namun Kementerian Dalam Negeri Rusia menyatakan 130 orang ditahan di seluruh negeri sebagian besar terjadi di Khabarovsk, wilayah timur jauh Rusia.
Unjuk rasa di kota lain
Sedangkan di St Petersburg, kota terbesar kedua Rusia, wartawan BBC Richard Galpin melaporkan sedikitnya 10.000 orang berkumpul di Lapangan Pionerskaya menyerukan pemilihan ulang dan pengunduran diri Vladimir Putin.
Aksi unjuk rasa ini berjalan tertib meski polisi tetap menangkap sejumlah pengunjuk rasa. Beberapa pengunjuk rasa menyatakan mereka mendapatkan intimidasi dari pemerintah.
"Saya tak terkait partai politik manapun. Saya hanya seorang mahasiswa yang lelah dengan semua kebohongan ini," kata Daniil Klubov yang mengaku diancam untuk tidak menghadiri unjuk rasa.
Klubov menambahkan dia dan teman-temannya menerima ancaman lewat vKontakte, situs jejaring sosial semacam Facebook.
Mereka diancam akan dikeluarkan dari universitas hingga ancaman penangkapan jika tetap menghadiri unjuk rasa.
"Beberapa orang memang ketakutan namun lebih banyak orang yang memahami bahwa semakin banyak yang berunjuk rasa maka peluang kami semakin besar," tambah Klubov.
Dalam perkembangan lain
- Pengunjuk rasa di kota pelabuhan Pasifikl, Vladivostok mengibarkan spanduk berbunyi "Tikus harus pergi!" serta "Penipu dan pencuri - kembalikan pemilu kami!"
- Di Kurgan, perbatasan Kazakhstan, polisi membubarkan unjuk rasa tidak berizin yang diikuti antara 200-400 orang yang berkumpul di lapangan kota dalam cuaca dingin.
- Sekitar 3.000 orang di Novosibirk nekat berunjuk rasa dalam cuaca beku minus 20C selama dua jam.
- Sekitar 3.000 orang berunjuk rasa di Yekaterinburg meneriakkan "Pembebasan tahanan politik" dan "Rusia tanpa Putin", seorang pengunjuk rasa mengibarkan spanduk bergambar beruang yang ditusuk kayu tajam. Beruang adalah lambang Partai Rusia Bersatu.





























