PBB serukan warga Sudan Selatan mengungsi

Sumber gambar, AFP
PBB meminta warga desa-desa di Sudan Selatan untuk melarikan diri dari kejaran petempur kelompok etnik saingan.
Para petempur etnik Lou Nuer mengejar anggota kelompok etnik Murle yang dituduh melakukan perampasan ternak dan Lou Nuer berjanji akan menghabisi mereka.
Wakil Koordinator Kemanusiaan PBB di Sudan Selatan Lise Grande mengatakan kepada BBC bahwa ratusan pasukan penjaga perdamaian PBB dan pasukan pemerintah tidak sebanding dengan jumlah petempur Lou Nuer yang mencapai 6.000 orang.
"Beberapa sayap penyerang telah bergerak ke arah tenggara (dari Pibor), hampir dipastikan mencari ternak," kata Grande.
Grande menambahkan mereka membakar gubuk-gubuk warga di desa-desa yang mereka lalui.
Puluhan ribu warga etnik Murle meninggalkan kota mereka Pibor, kota terpencil di negara bagian Jonglei, setelah diserang petempur Lou Nuer hari Sabtu (31/12).
Sekitar 1.000 orang tewas selama beberapa bulan terakhir karena aksi balas dendam pencurian ternak.
Grande mengatakan PBB melacak pergerakan Lou Nuer dan memperingatkan kepada warga etnik lain untuk "membubarkan diri di semak-semak demi keamanan mereka".
Pasukan tambahan
Wartawan BBC di kawasan Afrika timur Will Ross melaporkan sebagian petempur Lou Nuer masih berada di Pibor tetapi sebagian besar telah pergi.

Sumber gambar, AFP
Banyak dari mereka, tambah Will Ross, sekarang melakukan pengejaran etnik Murle yang telah melarikan diri dari Pibor.
Seorang warga Pibor yang melarikan diri ke ibukota Juba mengatakan kepada BBC bahwa Lou Nuer masih menguasai sebagian wilayah kota.
"Pasukan PBB berada di sana tetapi mereka tidak melawan petempur yang masuk ke kota," Orozu Lokine Daky dari Gereja Presbyterian Pibor.
"Mereka berusaha melindungi pusat kota saja, sisa wilayah berada di bawah kendali petempur," tambahnya.
Presiden Sudan Selatan Salva Kiir menyerukan kepada etnik Lou Nuer untuk menghentikan aksi dan kembali ke daerah asal.
Pemerintah mengatakan sedang mengirim pasukan tambahan dan sekitar 2.000 polisi ke Pibor.
Lembaga bantuan MSF mengatakan telah kehilangan kontak dengan beberapa dari 130 stafnya di Pibor dan menyatakan "sangat khawatir" akan keselamatan mereka.
Para pekerja MSF diyakini telah melarikan diri ke semak-belukar ketika Pibor diserang.
Sudan Selatan menjadi negara merdeka pada 9 Juli 2011 setelah mengalami perang saudara dengan wilayah utara.





























