Protes anti Suriah di Berlin dan London

Tentara Suriah terlihat berjaga-jaga di Kota Homs, Suriah, menyusul laporan kekerasan yang menewaskan sedikitnya 200 orang.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Tentara Suriah terlihat berjaga-jaga di Kota Homs, Suriah, menyusul laporan kekerasan yang menewaskan sedikitnya 200 orang.

Unjuk rasa menentang rezim Bashir al-Assad digelar di depan Kedutaan Besar Suriah di Berlin dan London, menyusul laporan kekerasan di Homs yang menewaskan sedikitnya 200 orang.

Sejumlah laporan menyebutkan pula, aksi serupa juga digelar di depan Kedutaan Besar Suriah di Madrid, AS, serta Swedia.

Pelaku demo sebagian besar adalah warga Suriah yang tinggal di negara-negara tersebut.

Di Berlin, puluhan orang pengunjuk rasa menerobos masuk ke kantor kedutaan, menendang pintu, dan merusak sebagian sarana kantor.

Aksi ini dihentikan aparat kepolisian Berlin, dan Kementerian Luar Negeri Jerman mengutuk pengrusakan ini dan meminta maaf kepada Suriah.

Sementara, aparat polisi London menangkap belasan pengunjuk rasa, setelah beberapa orang di antara mereka mencoba merusak komplek kedutaan besar Suriah.

"Kami datang ke sini (kedutaan besar Suriah), karena mendengar 200 orang tewas di Homs," kata salah-seorang pendemo, Anass Toma, warga Suriah yang sedang studi di London.

"Saya khawatir tentang situasi di negara kami. Saya sudah tinggal dua tahun di London, tapi saya tetaplah warga Suriah," tandasnya.

"Apa yang dikerjakan Dewan Keamanan PBB yang akan mengeluarkan resolusi untuk Suriah, saya tidak paham... Tapi pertumpahan darah di negara kami harus dihentikan," katanya lagi.

Pada Sabtu (04/02) ini, Dewan Keamanan PBB akan melakukan voting untuk menyelesaikan krisis politik Suriah, di tengah laporan lebih dari 200 warga sipil di Homs yang tewas akibat tembakan aparat Suriah.

'Pembantaian'

Rancangan resolusi menyerukan kepada Presiden Bashar al-Assad untuk menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya selama proses transisi politik di negara itu.

Sementara itu, aktivis Suriah menggambarkan kekerasan di Kota Homs, Suriah, sebagai "pembantaian".

Lembaga pemantau masalah HAM Suriah, yang berbasis di Inggris, menyatakan pasukan Suriah menembakkan mortir ke distrik Khalidiyya dan beberapa bangunan dibakar.

Disebutkan korban tewas akibat kekerasan ini terdapat kaum perempuan dan anak-anak.

Pimpinan lembaga pemantau HAM Suriah, Rami Abdulrahman, menyerukan agar Liga Arab melakukan "intervensi secara langsung" untuk mengakhiri kekerasan.

Walaupun beberapa laporan terkait kekerasan di Suriah tidak dapat diverivikasi secara independen, namun rekaman video yang disiarkan Al-Jazeera dan Al-Arabiya menunjukkan puluhan mayat bergeletakan di sebuah sudut Homs.