Serangan ke Homs Suriah meningkat

Homs Suriah
Keterangan gambar, Hanya ada satu RS dengan empat dokter untuk merawat korban luka di Homs.

Serangan terhadap Kota Homs Suriah terus berlanjut, menyusul upaya pemerintah negara itu untuk menguasai kota-kota yang menjadi pusat demonstrasi.

Koresponden BBC melaporkan serangan meningkat setelah 11 bulan kerusuhan terjadi di Suriah.

Kota Homs, yang merupakan pusat pendukung oposisi, mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pasukan keamanan pemerintah selama beberapa hari terakhir.

Wartawan BBC Paul Wood yang berada di Suriah menyebutkan ratusan granat dan mortir ditembakan ke Kota itu sepanjang hari.

Saksi mata Danny Abdul Dayem mengatakan kepada BBC, pertama kali militer menggunakan roket, dan lebih dari ratusan kali jatuh di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

"Sama sekali tidak aman, sebuah roket dapat mendarat di rumah saat ini," kata dia.

Sejumlah pemberontak telah membalas dengan senjata otomatis. Mereka mengklaim bahwa serangannya mengenai sebuah rumah sakit di distri Baba Amr, dan menyebabkan kerusakan pada Senin (6/2) kemarin.

Puluhan orang yang terluka menjalani perawatan di RS tersebut.

Dayem mengatakan hanya satu RS dengan empat dokter yang masih beroperasi di kota itu, dan sangat sulit mendapatkan perawatan kesehatan, tanpa risko tertembak.

Aktivis kampanye anti pemerintah lainnya, mengatakan kepada BBC, bahwa pemerintah Suriah juga menggunakan helikopter dan tank untuk menyerang masyarakat.

Sekutar 40 orang tewas pada Senin (6/2) lalu, seperti disampaikan aktivis.

Kedubes AS tutup

Suriah
Keterangan gambar, Serangan di sejumlah kota di Suriah meningkat dan korban bertambah.

Televisi milik pemerintah Suriah menyebutkan 'teroris' membakar gedung-gedung di Homs.

Sementara, Kantor Berita milik pemerintah Sana, melaporkan serangan terhadap jalur pipa minyak terjadi kemarin, dan menyalahkan 'teroris' yang melakukan tindakan tersebut.

Media dan aktivis juga melaporkan terjadi pertikaian di Kota Idlib dan Zabadani, dekat dengan Damaskus.

Wartawan BBC di Libanon, Jim Muir menyebutkan konflik dapat memicu perang saudara dan sektarian.

Peningkatan kekerasan di Suriah menyebabkan, Kementrian Luar Negeri AS mengatakan telah menutup kantor kedutaan di Damaskus dan menarik seluruh staf karena alasan keamanan.

Januari lalu, Washington telah memperingatkan akan menutup kedutaannya di Suriah jika pemerintah tidak mengatasi masalah keamanan.

Presiden AS BarackObama berjanji untuk menerapkan sanksi dan menekan Assad agar mundur dari jabatannya.

Obama mengatakan pentingnya mengatasi konflik tanpa adanya intervensi militer dari luar.

"Saya kira sangat penting bagi kami untuk mencoba mengatasi ini tanpa intervensi militer dari luar. Dan saya pikir ini memungkinkan," kata dia dalam wawancara dengan NBC networks.

Dia menambahkan sebuah solusi perundingan dimungkinkan dan mengatakan AS 'bersikeras' meminta Assad untuk mundur.

Sementara itu, Rusia dan Cina mempertahankan penggunaan hak veto mereka dalam pengambilan keputusan rancangan draf resolusi Suriah- tetapi langkah kedua negara itu memicu kemarahan lawan Presiden Bashar al-Assad.

Sementara itu, oposisi Suriah mengatakan Veto yang dilakukan Cina dan Rusia terhadap draf resolusi PBB akan meningkatkan tindakan pemerintah Suriah.