Kuba menangkap aktivis HAM menjelang kunjungan Paus

Sumber gambar, AP
Polisi Kuba menahan lusinan aktivis oposisi, seminggu menjelang kunjungan Paus Benediktus XVI.
Kebanyakan yang ditahan adalah anggota kelompok Perempuan dalam Putih, yang mendesak pembebasan tahanan politik.
Mereka dihentikan saat menggelar aksi diam di sepanjang jalan di ibukota, Havana.
Kelompok ini mengatakan otoritas negara Komunis semakin meningkatkan tekanan terhadap pergerakan mereka dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Kuba menyebut gerakan mereka didanai pemerintah AS untuk merusak revolusi Kuba.
Perempuan dalam Putih atau Damas de Blanco biasanya melakukan aksi bersama dan kemudian menggelar demonstrasi mendesak pembebasan semua tahanan politik.
Pemimpin ditangkap
Seorang juru bicara kelompok ini mengatakan 19 anggota mereka ditahan Sabtu malam ketika mencoba untuk menggelar aksi demo di pusat Havana. Tiga diantaranya sudah dibebaskan tanpa ada tuntutan.
Hari Minggu, polisi menahan lagi 36 anggota kelompok ini termasuk ketuanya Bertha Soler saat mereka mencoba untuk tetap menggelar aksi massa di Havana.
22 perempuan dan dua lelaki juga ditangkap saat mereka menuju pusat kota dengan melalui rute di luar yang ditentukan otoritas.
Saksi mata mengatakan mereka dimasukan ke dalam sebuah bus oleh petugas polisi tak berseragam. Tetapi mereka kemudian dibebaskan.
Wartawan BBC di Havana melaporkan bahwa aksi demo di Kuba semakin meningkat menjelang kunjungan Paus dan hal ini mendapat reaksi dari pemerintah.
Elizardo Sanchez, dari Komisi Hak Asasi Manusia Kuba - yang dilarang tetapi masih ditoleransi -, mengutuk penangkapan tersebut.
"Akhir pekan ini kembali terjadi tekanan politik dari pemerintahan totaliter,'' katanya. ''Bagian terburuk adalah korbannya kebanyakan perempuan.''
Dia mengatakan tidak jelas dimana mereka ditahan.
Hak Asasi Manusia

Sumber gambar, Getty Images
Penahanan berlangsung seminggu sebelum kunjungan Paus Benediktus di Kuba.
Dalam kunjungannya ini dia diperkirakan akan mengangkat isu HAM dengan pemerintahan Komunis.
Angel Moya, seorang pembangkang Kuba dan mantan tahanan politik mengatakan bahwa kunjungan Paus tidak akan membawa pembebasan bagi Kuba.
"Kedatangan Benediktus XVI hanyalah sebuah kunjungan keagamaan, dengan pesan tentang cinta, dengan pesan rekonsiliasi, dengan pesan Kristen,'' katanya.
"Oleh karena itu dia bukan pembebas Kuba. Pembebas Kuba adalah warga Kuba sendiri.''
Hari Minggu kemarin merupakan perayaan sembilan tahun penangkapan 75 lawan politik pemerintah Kuba.
Gereja Katolik Roma berperan serta dalam pembebasan para lawan politik tersebut pada tahun 2010, setelah aksi demo dari para istri dan saudara perempuan mereka.
Gerakan ini kemudian dikenal dengan sebutan Perempuan dalam Putih, kelompok yang awalnya dibentuk sebagai suara bagi lawan politik yang ditahan ini kemudian berkembang dengan mengusung isu HAM.
Awal tahun ini mereka menerima penghargaan Pembela HAM dari pemerintah AS.
Aksi Perempuan dalam Putih sering mengalami pelecehan dari para pendukung pemerintah.
Otoritas Kuba mengatakan tindakan tersebut merupakan reaksi spontan dari warga yang melawan ''tentara bayaran, yang didanai AS,'' tetapi posisi menyebut mereka digerakan pemerintah.





























