Assad: Suriah dalam keadaan perang

Sumber gambar, Reuters
Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan negaranya dalam ''keadaan perang'', lebih dari setahun setelah aksi menentang kekuasaannya dimulai.
Dalam pidato pengumuman kabinet barunya, Assad mengatakan segala upaya dikerahkan untuk memenangkan perang.
"Kita hidup dalam keadaan perang dari berbagai sudut,'' demikian kata Assad kepada para anggota kabinet barunya yang diambil sumpah Selasa (26/06).
"Ketika kita dalam sebuah perang, semua kebijakan dan semua pihak dan semua sektor harus diarahkan untuk memenangkan perang ini,''
Dia juga mengkritik sejumlah negara Barat yang memintanya untuk mundur.
''Kami ingin hubungan yang baik dengan semua negara tetapi kita juga harus tahu dimana kepentingan kita berada.''
Sebelumnya, aktivis HAM mengatakan pertempuran sengit di pinggir kota Damaskus semakin memburuk.
Pengawas HAM dari Inggris mengatakan pertempuran berlangsung di dekat posisi Pasukan Keamanan Republik di Qadsaya dan al-Hama, sekitar 8km dari pusat kota Damaskus.
Koresponden BBC mengatakan sangat jarang pertempuran berlangsung di dekat markas Pasukan Keamanan Republik dan hal ini meningkatkan kepercayaan diri diantara para pemberontak.
Pasukan Keamanan Republik, yang dipimpin oleh Maher adik bungsu Presiden Assad, merupakan tim elit yang ditugaskan untuk menjaga ibukota.
TV pemerintah mengkonfirmasi pertempuran tersebut tetapi mengklaim lusinan ''teroris'' berhasil dibunuh dan menangkap banyak pemberontak termasuk dari negara asing.
Dalam laporan tersebut juga disampaikan sejumlah besar pasukan pemberontak mencoba masuk ke al-Hama dan berupaya menguasai jalan utama di barat guna mendapatkan jalur persediaan senjata dan pemberontak.
Sementara pengawas mengatakan10 orang tewas dalam baku tembak di Qadsaya dan sekitar 58 lainnya tewas dalam kekerasan di sepanjang Suriah pada hari Selasa (26/06) - 24 korban tewas adalah tentara pemerintah, 30 warga sipil dan empat pemberontak. Tetapi angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
Kepala pengawas Rami Abdel Rahman kepada kantor berita AFP mengatakan: ''Ini adalah yang pertama rezim menggunakan artileri saat bertempur di ibukota.
"Perkembangan ini menjadi penting karena ini adalah pertempuran yang terberat di kawasan dekat dengan jantung ibukota.''
Sipil terjebak

Sumber gambar, AFP
Pertempuran sengit juga dilaporkan terjadi di Homs, tempat dimana Komite Palang Merah Internasional, ICRC, gagal mengevakuasi warga sipil yang terjebak pertempuran.
Pertempuran terbaru ini terjadi ditengah-tengah peningkatan tensi dengan Turki pasca penembakan jatuh salah satu pesawat milik negara tetangga Suriah tersebut.
Turki, Selasa kemarin mengatakan telah mengubah aturan keterlibatan militer mereka setelah Suriah menembak jatuh sebuah jet F-4 Phantom di atas Mediterania timur minggu lalu.
Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan kepada perlemen mengatakan bahwa jika ada pasukan Suriah yang mendekati perbatasan Turki maka akan dipandang sebagai sebuah ancaman.
"Setiap elemen militer mendekati Turki dari perbatasan Suriah dan menggambarkan sebuah resiko keamanan dan membahayakan akan dianggap sebagai ancaman militer dan akan dijadikan sebagai sasaran militer,'' katanya.
Suriah bersikeras bahwa jet tempur F-4 Phantom ditembak jatuh karena memasuki kawasan udara Suriah. Sedangkan Turki menyatakan pesawat mereka berada di kawasan udara internasional.
Nato, langsung menggelar pertemuan darurat pada hari Senin (25/06) dan mengungkapkan ''solidaritas kuat'' bagi salah satu negara anggotanya tersebut.
Sebelum insiden penembakan F-4 hubungan Turki dan Suriah yang pernah menjadi sekutu dekat itu memang sudah memburuk.





























