Pemimpin dunia kecam serangan di Tremseh

Sumber gambar, AP
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan militer Suriah ''sengaja membunuh sipil'' di desa Tremseh.
Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas dalam sebuah serangan militer di desa tersebut, yang menjadikannya kejadian tunggal paling berdarah sejak konflik Suriah berlangsung.
Meski diklaim kebanyakan sipil meninggal dalam penyerangan ini tetapi sejumlah laporan juga menyebut banyak pejuang pemberontak yang turut menjadi korban.
Militer Suriah sendiri mengakui telah membunuh ''banyak teroris'' tetapi bukan sipil.
Sedangkan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan serangan tersebut menimbulkan ''keraguan yang mendalam'' atas komitmen Presiden Assad atas rencana perdamaian.
Ban Ki-moon meminta anggota PBB ''untuk mengambil aksi bersama dan tepat untuk secepatnya menghentikan tragedi yang berlangsung di Suriah''.
"Ketiadaan aksi menjadi sebuah lisensi untuk melakukan pembantaian lanjutan,'' katanya.
Hillary Clinton menambahkan ''mereka yang melakukan kekejaman ini akan diidentifikasi dan harus bertanggung jawab.''
Selain AS, Prancis dan Inggris juga mengutuk kekerasan ini dan meminta adanya aksi kordinasi dari Dewan Keamanan PBB.
Sebelumnya pengawas PBB mengkonfirmasikan bahwa mereka telah melihat tanda peningkatan pertempuran di kawasan tersebut sejak Kamis (12/07) dengan keberadaan tank, helikopter dan persenjataan berat.
Tim pengawas kini tengah mencoba mengatur gencatan senjata sehingga bisa masuk ke dalam desa untuk membuat analisis lengkap.
'Ultimatum'
PBB saat ini masih terkunci dalam perdebatan tentang masa depan misi pengawas PBB di Suriah, yang akan berakhir 20 Juli.
Negara-negara Barat menginginkan sebuah ultimatum sepuluh hari untuk menghentikan kekerasan dengan ancaman sanksi jika tidak dipatuhi.
Ultimatum ini dimasukkan kedalam resolusi Dewan Keamanan PBB terkait masa depan misi pengawas.
Tapi permintaan tersebut tetap ditolak Cina dan Rusia yang berseberangan dengan setiap kebijakan untuk mengancam Damaskus dari sanksi lanjutan.
Wartawan BBC melaporkan serangan di Tremseh jelas memberikan dampak politis, tetapi mungkin tidak cukup untuk mengubah opini Rusia terkait sanksi.
Pertempuran Tremseh
Masih belum jelas apa yang menyebabkan kekerasan di Tremseh.
Sebelumnya aktivis oposisi mengatakan pasukan pemerintah mengepung desa Kamis kemarin untuk mengambil alih kekuasaan yang dipegang Militer Pembebasan Suriah.
Pasukan pemerintah memborbardir Tremseh selama beberapa jam sebelum milisi pendukung pemerintah dari desa Alawite masuk dan membunuh lebih banyak lagi penduduk desa serta membakar rumah.
Aktivis mengklaim warga yang mencoba melarikan diri juga ditembak mati.
Tetapi kemudian, aktivis kepada kantor berita AFP mengatakan pejuang pemberontak menyerang konvoi militer, dan kemudian dipukul mundur dan banyak korban tewas dalam serangan balik.
"Pada tahap ini, meski kami belum memiliki hitungan akhir, jumlah sipil yang tewas tidak lebih dari tujuh,'' kata Jaafar, seorang aktivis anti rezim dari Jaringan Sham News.

Sumber gambar, AP
"Sisanya adalah anggota Militer Pembebasan Suriah.''
Aktivis juga mempublikasikan sebuah video yang menunjukkan gambar mayat lelaki dan anak-anak yang tewas di Tremseh.
Sementara itu media pemerintah Sana memberitakan bahwa kelompok teroris menggunakan Tremseh sebagai ''papan pegas untuk tindakan kriminal mereka,'' mengutip sumber militer Suriah.
Militer Suriah menyatakan melakukan ''operasi kualitatif'' setelah penduduk desa mengaku ikut bergabung dengan mereka.
Laporan Sana juga menyatakan, setelah ''teroris'' dibunuh tentara menemukan banyak jenazah sipil yang yang diculik dan dibunuh oleh teroris.
Jumlah korban sering kali tidak bisa diverifikasi, karena Suriah melarang media meliput konflik.
Sekitar 16.000 orang diyakini tewas sejak aksi menentang rezim Bashar al-Assad dimulai Maret 2011.
Wall Street Journal dalam sebuah pemberitaan Kamis lalu mengutip laporan intelejen yang menyebut Suriah mulai menggerakan senjata kimia mereka, ditengah-tengah kekhawatiran pemerintah bisa memakainya untuk melawan pemberontak atau sipil.





























