FIFA didesak serius tangani korupsi

Sumber gambar, Getty
Organisasi antikorupsi Transparency International mengatakan FIFA sebaiknya membentuk tim independen untuk menyelidiki dugaan korupsi agar krisis kepercayaan yang menimpa FIFA bisa diakhiri.
Transparency International mengatakan tim independen ini sebaiknya terdiri dari pendukung sepak bola, sponsor, klub, dan wartawan.
"FIFA mengatakan mereka ingin melakukan reformasi. Tapi kasus-kasus suap membuat kepercayaan publik terhadap FIFA berada di titik terendah," kata Sylvia Schenk dari Transparency International kepada kantor berita Reuters.
"Kesediaan untuk bekerja sama dengan pihak lain dan memberi mereka akses terhadap proses investigasi akan menunjukkan bahwa FIFA ingin perubahan. Dan perubahan itu harus dimulai saat ini juga," katanya.
Desakan ini dikeluarkan setelah Presiden FIFA Sepp Blatter meminta masukan Transparency International setelah muncul kasus dugaan suap dan pembelian suara dalam pemilihan presiden FIFA.
Kurang mencukupi
Masukan Transparency International mencakup saran agar FIFA mengumumkan secara terbuka laporan keuangan, termasuk bonus dan gaji pengurus.
Selama ini pertanggungjawaban FIFA hanya diberikan kepada 208 anggota. Transparency International berpendapat mekanisme pertanggungjawaban seperti ini belum dianggap mencukupi.
Organisasi ini juga meminta FIFA melindungi pengurus yang mengungkap kasus, membatasi masa jabatan pengurus, dan mewajibkan semua peserta Piala Dunia untuk mendukung reformasi FIFA.
FIFA diguncang sejumlah skandal korupsi tahun lalu. Dua anggota eksekutif diskors karena diduga menjual hak suara mereka dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.
Bulan lalu Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia Mohammed Bin Hammam dilarang aktif di kegiatan sepak bola seumur hidup karena diduga mencoba membeli suara dalam pemilihan presiden FIFA Juni lalu.
Pengurus FIFA lain, Jack Warner, mengundurkan diri karena diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Bin Hammam menegaskan dia tidak bersalah.





























