3 Alasan Utama Donald Trump Ngebet Kuasai Greenland
Setidaknya 3 faktor ini yang membuat Donald Trump kepincut ingin menguasai Greenland.

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan keinginan untuk membeli Greenland, dunia sempat menganggapnya sebagai lelucon. Namun, di balik retorika yang terdengar impulsif tersebut, tersimpan kalkulasi geopolitik yang sangat serius.
Wilayah otonom Denmark yang sebagian besar tertutup es ini ternyata menyimpan potensi besar yang membuatnya menjadi rebutan kekuatan-kekuatan dunia.
Mengutip CNN, Selasa (13/1), terdapat tiga faktor utama yang saling terkait, yang kini diperparah oleh krisis iklim, menjadikan Greenland sebagai wilayah strategis yang sangat penting.
Ketiga faktor tersebut meliputi posisi geopolitik, sumber daya alam, dan potensi jalur pelayaran utara di sekitarnya.
Gerbang Penjaga Atlantik Utara
Alasan pertama dan yang paling mendasar adalah lokasi geografisnya yang tak tergantikan. Greenland terletak tepat di antara Amerika Serikat dan Eropa, menjadikannya kunci pertahanan yang sangat vital. Wilayah ini berada di jalur yang dikenal sebagai celah GIUK atau Greenland-Iceland-UK gap.
Ini adalah sebuah jalur maritim strategis antara Greenland, Islandia, dan Inggris yang menghubungkan Samudra Arktik ke Samudra Atlantik.
Lokasi ini menjadikannya sangat penting untuk mengendalikan akses ke Atlantik Utara, baik untuk kepentingan perdagangan maupun keamanan militer.
Harta Karun Mineral di Balik Es
Faktor kedua yang tak kalah menggiurkan adalah kekayaan alam yang terkubur di bawahnya. Greenland diketahui memiliki cadangan minyak, gas, dan mineral langka yang melimpah.
Posisi strategis ini semakin penting karena Tiongkok saat ini memanfaatkan dominasinya dalam industri mineral langka untuk memberikan tekanan pada AS.
Padahal, mineral-mineral ini sangat penting bagi perekonomian global. Bahan ini dibutuhkan untuk memproduksi segala sesuatu mulai dari mobil listrik, turbin angin, hingga peralatan militer.
Trump sendiri sempat meremehkan hal ini dengan berdalih bahwa AS membutuhkan Greenland murni untuk keamanan nasional.
Namun, mantan penasihat keamanan nasionalnya, Mike Waltz, pada Januari 2024 secara terbuka menyatakan hal berbeda. Ia menyebut bahwa fokus pemerintahan Trump sebenarnya memang tertuju pada "mineral penting" dan sumber daya alam tersebut.
Medan Tempur Baru di Jalur Arktik
Faktor ketiga berkaitan erat dengan krisis iklim yang ironisnya membuka peluang ekonomi baru. Mencairnya es Arktik membuat kekayaan mineral Greenland mungkin akan lebih mudah diakses, meskipun tantangan medan pegunungan dan infrastruktur masih menghantui.
Perubahan geografis ini memicu perebutan wilayah Arktik antara AS, Tiongkok, dan Rusia. Moskow selalu memandang wilayah tersebut vital bagi pertahanannya, mengingat lebih dari seperempat wilayah Rusia berada di Arktik.
Di sisi lain, Tiongkok pun tak mau kalah. Sejak tahun 2018, Negeri Tirai Bambu itu telah menyatakan diri sebagai "negara dekat Arktik" dan mengejar ambisi "Jalur Sutra Kutub" untuk pelayaran.
Persaingan tiga negara besar inilah yang membuat Greenland kini menjadi aset yang "wajib" dimenangkan oleh Washington.
Reporter magang: Muhammad Naufal Syafrie



























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523436/original/088155600_1772816651-1001064690.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523431/original/011866200_1772816106-260254.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5211473/original/020366100_1746581539-hansi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519603/original/021723700_1772587901-AP26062748359237.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5343404/original/006730000_1757415749-14689.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523402/original/083790500_1772811975-IMG_2172.jpeg)


















