Bukan Penyakit Kutukan, Ini Fakta Kusta yang Diidap Masyarakat Indonesia
Menteri Kesehatan Budi menjelaskan fakta medis terkait penyakit ini, termasuk penularannya yang lambat dan pengobatan efektif yang tersedia di Indonesia.

Anggapan bahwa kusta merupakan sebuah kutukan masih ada di kalangan masyarakat. Stigma ini menyebabkan mereka yang menderita kusta sering kali diperlakukan secara tidak adil, dihindari, bahkan diasingkan dari lingkungan sosial. Padahal, kusta adalah penyakit yang penyebab dan cara pengobatannya telah diketahui secara medis, serta tidak secepat yang diyakini banyak orang dalam hal penularannya.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan. "Ini bukan kutukan, ini penyakit," ujar Budi dalam media briefing bertajuk Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia pada Kamis (15/1).
Budi juga menjelaskan bahwa kusta telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Pada tahun 1872, ilmuwan asal Norwegia, Gerhard Armauer Hansen, berhasil menemukan penyebab penyakit ini secara ilmiah. Kusta disebabkan oleh bakteri yang dikenal sebagai Mycobacterium leprae. Salah satu stigma paling besar di masyarakat adalah anggapan bahwa kusta sangat mudah menular.
Budi menegaskan bahwa meskipun kusta termasuk dalam kategori penyakit menular, proses penularannya tidak cepat dan membutuhkan waktu yang lama. "Lepra (kusta) dan TBC menular? Iya. Cuma Lepra itu menularnya susah sekali dan lama," ujar dia.
Kusta dapat diobati dengan antibiotik yang tersedia dan efektif. Bahkan, setelah pengobatan dimulai, risiko penularan dapat berhenti dalam waktu yang singkat. "Begitu diobatin, minum obat dalam kurang dari seminggu, sudah tidak menular," tambah Budi.
Kusta Tidak akan Menular
Menurutnya, setelah mengonsumsi obat dalam waktu singkat, penularan penyakit sudah tidak terjadi lagi. Dalam tiga hari, empat hari, sudah tidak menular lagi.
"Obatnya ampuh dan menyembuhkan," tambah dia.
Dia juga menegaskan bahwa mengisolasi anggota keluarga yang terdiagnosis kusta adalah tindakan yang salah dan merupakan bentuk disinformasi.
"Kalau teman-teman mengisolasi atau membuang saudaranya kalau kena lepra, itu disinformasi. Enggak ada scientific evidence-nya," ujar dia.
Upaya untuk mengeliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai rintangan. Selain adanya keterlambatan dalam deteksi awal, stigma dan diskriminasi menjadi kendala yang sangat signifikan.
Dampak dari masalah ini tidak hanya dirasakan oleh individu yang menderita kusta, tetapi juga oleh anggota keluarga mereka. Hal ini berpengaruh pada kualitas hidup dan kondisi sosial ekonomi mereka, yang sering kali tertekan akibat pandangan negatif masyarakat.
Terdapat Kekurangan dalam Pendidikan Mengenai Upaya Pemberantasan Kusta
Kurangnya pemahaman mengenai kusta di kalangan masyarakat menyebabkan banyak orang tidak menyadari bahwa penyakit ini dapat disembuhkan dan tidak mudah menular. Hal ini berakibat pada munculnya kesalahpahaman yang terus berulang dan memperburuk kondisi sosial bagi mereka yang terdampak.
Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa, menekankan pentingnya menghapus stigma yang melekat pada penderita kusta.
Melalui Sasakawa Health Foundation (SHF), ia menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan harus melihat kusta sebagai penyakit biasa, bukan sebagai kutukan.
"Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi serta memberi mereka simpati," ungkap Sasakawa.
Dia juga menambahkan bahwa isu kusta tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga disebabkan oleh komunikasi yang keliru di masyarakat.
"Sebagaimana kita tahu, kusta memiliki tanda-tanda medis, namun mendapat masalah stigma karena banyak diskomunikasi yang harus diatasi," pungkasnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5382314/original/023006700_1760577182-WhatsApp_Image_2025-10-15_at_23.02.34.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476329/original/098209100_1768728369-IMG_4903.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469235/original/018631400_1768099529-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_09.32.24__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476365/original/034456100_1768732998-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_15.59.35.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475865/original/031467900_1768665486-MU.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476142/original/031022700_1768713983-WhatsApp_Image_2026-01-18_at_12.09.03.jpeg)












