Kasus DBD di Bali 2025 Capai 10.391, Badung Tertinggi
Dinkes Bali mencatat 10.391 kasus DBD sepanjang 2025 dengan 14 kematian. Angka ini turun dibanding 2024 berkat sosialisasi, jumantik, dan vaksinasi.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat sebanyak 10.391 kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 14 orang dilaporkan meninggal dunia.
“Kalau untuk 2025 itu kasus DBD total di Provinsi Bali itu ada 10.391 dan ada 14 orang yang meninggal,” kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, di Denpasar, Jumat (9/1).
Sebaran Kasus dan Wilayah Tertinggi

Berdasarkan data Dinkes Bali, kasus DBD paling banyak tercatat di Kabupaten Badung dengan 2.038 kasus tanpa kematian.
Kabupaten Gianyar mencatat 1.972 kasus dengan tiga kematian, disusul Kabupaten Buleleng sebanyak 1.726 kasus dan satu kematian.
Kabupaten Karangasem melaporkan 1.518 kasus dengan satu kematian. Lalu, di susul Kota Denpasar berada di urutan berikutnya dengan 1.291 kasus dan empat kematian.
Tabanan 664 kasus dengan tiga kematian, Klungkung 668 kasus dengan dua kematian, Bangli 396 kasus tanpa kematian, serta Jembrana 118 kasus tanpa korban jiwa.
Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, Dinkes Bali mencatat 15.570 kasus DBD dengan 25 kematian.
“Untuk di 2024 ini justru lebih tinggi, ada 15.570 kasus di 2024, kematiannya 25 kasus,” ujar Raka.
Faktor Risiko dan Upaya Pencegahan
Menurut Dinkes Bali, tingginya kasus DBD dipengaruhi kepadatan dan mobilitas penduduk, terutama di wilayah perkotaan seperti Denpasar, Badung, dan sebagian wilayah Buleleng.
“Kalau faktornya, tentu kita lihat dari kepadatan penduduk. Kemudian tentu mobilitas penduduk yang sangat mempengaruhi,” jelasnya.
Faktor cuaca juga berperan. Curah hujan yang relatif tinggi dinilai membantu mengurangi genangan air sehingga menekan perkembangbiakan nyamuk.
“Lebih baik kalau hujannya agak deras dibandingkan yang sedikit-sedikit,” katanya.
Selain faktor alam, Dinkes Bali melakukan sejumlah langkah pencegahan, mulai dari penerbitan surat edaran kewaspadaan DBD hingga penggerakan juru pemantau jentik (jumantik) dengan dukungan CSR swasta di daerah berisiko tinggi.
“Kami dibantu oleh CSR swasta untuk mengerahkan jumantik turun ke rumah-rumah memantau jentik,” ujarnya.
Dinkes Bali juga melaksanakan vaksinasi DBD secara terbatas dengan dukungan LSM, menyasar pelajar di wilayah dengan kasus tinggi dan kawasan pariwisata, seperti di salah satu desa di Kabupaten Gianyar.
“Sudah 1.000 siswa divaksin. Kami harapkan ada inovasi dari kabupaten dan kota sesuai kemampuan anggaran masing-masing,” ucap Raka Susanti.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480103/original/031715700_1769041871-IMG_5557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482811/original/027935300_1769254413-IMG_7051.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482788/original/034488500_1769250453-G_a6Q8XbYAAsm42.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482438/original/071932200_1769206214-Inter_Milan_vs_Pisa_lagi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456635/original/096053100_1766912433-david.jpeg)




















