Masa Depan Bandung Zoo, Begini Tanggapan Karyawan dan Pengunjung
Ada tiga kemungkinan terkait nasib Bandung Zoo ke depan yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan belum lama ini.

Pemerintah Kota Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat tengah membahas masa depan Bandung Zoo. Hasil pembahasan mengenai rencana pengelolaan dan pengembangan kebun binatang tersebut diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dua bulan ke depan.
Ada tiga kemungkinan terkait nasib Bandung Zoo ke depan yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan belum lama ini. Itu antara lain, yaitu mempertahankan kondisi seperti sekarang, mengembangkan kawasan menjadi taman margasatwa dengan jumlah satwa lebih terbatas disertai penambahan ruang terbuka hijau, lalu mengalihfungsikan kawasan sepenuhnya menjadi ruang terbuka hijau (RTH).
Terkait ini, karyawan Bandung Zoo pun urun bicara. Dari tiga kemungkinan tersebut, para pekerja menegaskan kecenderungan untuk mempertahankan Bandung Zoo tetap berfungsi sebagai kebun binatang seperti saat ini.
"Kita tetap ingin ini menjadi kebun binatang seperti sekarang,” ucap juru bicara karyawan Bandung Zoo Sulhan Syafi'i, saat dijumpai pada Kamis (15/1).
Dikunjungi 1500 orang per hari

Ia pun mengungkap alasan atas kecenderungan respons tersebut. Pertama, menurut Sulhan, secara umum tingkat kunjungan warga yang ingin melihat satwa di Bandung Zoo hingga saat ini masih tergolong tinggi. Meski dalam kondisi buka terbatas, di awal tahun rata-rata dikunjungi 1500 orang per hari.
Ia menyebut bahwa Bandung Zoo saat ini masih memiliki status grade B sebagai kebun binatang. Menurutnya, hal itu menunjukkan kualitas pengelolaan yang masih sangat layak.
"Karena Kebun Binatang Bandung itu grade-nya grade B sekarang. Artinya kita itu sangat baik untuk di arena kebun binatang," kata dia.

Ruang Terbuka Hijau
Selain itu, Sulhan mengatakan bahwa kawasan Bandung Zoo sejak awal juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau. Dikatakan Aan–sapaan akrab Sulhan–di Bandung Zoo ada belasan ribu pohon dengan produksi oksigen yang amat baik.
"Kita memiliki belasan ribu pohon-pohon besar yang oksigennya sangat baik di sini,” tuturnya.
Ia menilai, jika kemungkinan kedua atau ketiga diterapkan yang terdampak bukan semata urusan pada fungsi konservasi satwa, tetapi juga pada citra Kota Bandung. Di sisi lain, menurutnya, Bandung Zoo punya sejarah panjang serta catatan keberhasilan dalam pengembangan satwa, salah satunya tapir, sehingga dinilai masih sangat relevan untuk dipertahankan.
“Artinya kalau dijadikan kebun binatang mini itu akan semakin sedikit satwanya. Artinya tingkat gengsinya sebuah kota itu menjadi turun, karena sudah tidak memiliki kebun binatang lagi. Apalagi hanya menjadi sebuah taman kota yang hanya pepohonan di dalamnya,” demikian hemat dia.
Tetap Manut Kepada Pemegang Otoritas
Kendati begitu, Sulhan bilang pihak karyawan tetap akan mengikuti keputusan pemerintah selaku pemegang otoritas menyangkut nasib Bandung Zoo ke depan.
“Kalau kita nerima aja kalau pemerintah kota memaksakan opsi satu misalnya seperti tetap kebun binatang kita akan dukung. Opsi dua ya meskipun tidak mendukung kalau mereka memaksakan yang mereka yang punya kekuatan atau otoritas. Opsi ketiga kalau dijadikan taman kota ya monggo kita ikutan saja,” katanya.
“Tapi kita berkecenderungan yang opsi nomor satu tetap sebagai kebun binatang,” imbuh dia.
Saat ini, Bandung Zoo sendiri dibuka sebagai RTH bagi publik. Tak ada biaya yang dikenakan untuk masuk ke sana namun pengunjung diperkenankan berdonasi.
Terkait pakan satwa, Aan mengatakan biayanya telah ditanggung full oleh pemerintah melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Mekanisme bantuan, dilakukan dengan kwitansi pembelian pakan diklaimkan ke BBKSDA, dan biayanya ditransferkan langsung ke rekening penjual pakan.
Adapun soal donasi yang dibuka, kata Aan itu untuk menutup bila ada kekurangan. Dari rata-rata 1500 pengunjung, menurut Aan terkumpul donasi sekitar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta per hari.
Kata Pengunjung
Sementara itu, Sandi (30) warga Soreang Kabupaten Bandung, mengungkapkan harapan agar Bandung Zoo dapat tetap berfungsi sebagai kebun binatang.
“Biar semua orang bisa liburan ke sini,” katanya saat berbincang di sela kunjungannya bersama anak dan istrinya ke Bandung Zoo, Kamis (15/1).
Ia sendiri, mengaku kunjungan kali ini adalah yang pertama bagi dia dan keluarganya selama hidup. Ia mengaku amat bahagia dapat berkunjung ke sana.
“Saya senang banget, sudah lihat yang tadinya belum pernah lihat, sekarang jadi sudah pernah lihat. Ada banyak tadi, ada gajah, unta, itu beruang madu. Istri Alhamdulillah senang, anak senang,” tutur Sandi.
Harapan serupa juga diungkapkan oleh Utari (17), warga Kota Cimahi, yang berkunjung ke Bandung Zoo bersama kakaknya Nitra (25).
“Jangan ditutup dulu soalnya ini kan jadi tujuan wisata buat warga Bandung dan sekitarnya kan,” ucap dia.
“Tetep ada binatangnya,” imbuhnya.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475834/original/083576600_1768661175-Menteri_Kelautan_dan_Perikanan__KKP__Sakti_Wahyu_Trenggono_.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475814/original/055011200_1768657229-AP26017454587181.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475809/original/032406400_1768655848-IMG_20260117_083259.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475808/original/013591300_1768655186-1001517114.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475805/original/035346900_1768654776-215663.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475804/original/020764700_1768654307-IMG_6777.jpg)















