Update Terkini: 688 Warga Grobogan Sembuh dari Dugaan Keracunan MBG, Puluhan Masih Dirawat
Ratusan warga Grobogan yang mengalami dugaan keracunan MBG menunjukkan perkembangan positif, dengan 688 orang telah pulih dan puluhan lainnya masih dalam perawatan intensif. Simak detail penanganan kasus keracunan MBG Grobogan ini.

Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, melaporkan perkembangan signifikan terkait kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan warganya. Hingga Selasa (13/1), sebanyak 688 dari total 803 orang yang mengalami gejala keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Perkembangan ini menunjukkan upaya penanganan medis yang cepat dan efektif di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Meskipun demikian, masih ada 54 pasien yang memerlukan perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan. Mereka adalah bagian dari 115 pasien yang sebelumnya menjalani rawat inap, di mana 61 orang di antaranya telah pulih sepenuhnya. Data ini bersifat dinamis dan terus diperbarui seiring dengan kondisi pasien yang terus membaik.
Peristiwa dugaan keracunan ini bermula pada Jumat (9/1), ketika ratusan warga, mayoritas siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren, mengalami gejala mual dan muntah. Gejala tersebut muncul setelah mereka mengonsumsi MBG yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.
Perkembangan Terkini Penanganan Korban Keracunan MBG Grobogan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, menjelaskan bahwa dari 115 pasien yang sempat dirawat inap, 61 orang telah sembuh dan diizinkan pulang. Hal ini menyisakan 54 pasien yang masih dalam perawatan medis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Pasien yang telah sembuh dan dipulangkan berasal dari beberapa fasyankes, termasuk 9 orang dari Puskesmas Karangrayung I, 3 orang dari Puskesmas Gubug I, 19 orang dari RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi, dan 30 orang dari RSUD Ki Ageng Getas Pendowo.
Sementara itu, 54 pasien yang masih menjalani perawatan tersebar di beberapa lokasi. Rinciannya meliputi 19 orang di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, 10 orang di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi, dan 3 orang di Puskesmas Karangrayung I.
Selain itu, 7 orang dirawat di Puskesmas Kedungjati, serta masing-masing 1 pasien di Puskesmas Gubug I, RS Permata Bunda, Puskesmas Toroh I, dan Puskesmas Grobogan. Sebanyak 6 orang di Puskesmas Klambu dan 5 orang di Puskesmas Godong I juga masih dalam perawatan.
Kronologi Kejadian dan Sumber Dugaan Keracunan Makanan
Dugaan keracunan massal ini pertama kali terjadi pada Jumat (9/1), melibatkan ratusan warga Grobogan. Mayoritas korban adalah siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren yang tersebar di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.
Korban mengalami gejala umum berupa mual dan muntah setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan yang diduga menjadi penyebab adalah nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek.
Menu MBG tersebut disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron. Insiden ini memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat dan pihak berwenang mengenai keamanan pangan.
Investigasi dan Tindakan Lanjut Dinas Kesehatan Grobogan
Menanggapi insiden ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan segera mengambil langkah-langkah investigasi dan penanganan. Selain memberikan penanganan medis kepada para korban, Dinas Kesehatan juga telah melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).
Sampel makanan dari menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan telah diambil dan dikirim untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Semarang. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan akan keluar dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari mendatang.
Sebagai respons cepat, operasional SPPG Kuwaron dihentikan sementara menyusul temuan pelanggaran serius terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan masalah kebersihan, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum memenuhi standar. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem produksi dan distribusi makanan sedang dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Sumber: AntaraNews





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158422/original/012721900_1741665141-kata-kata-untuk-stop-bullying.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2818452/original/068180400_1559103065-Screenshot_2019-05-13-17-09-10-899_com.miui.videoplayer.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475125/original/017162900_1768551859-Biawak_terjepit_pintu.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475071/original/079119100_1768549321-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_14.36.03.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474799/original/092220700_1768536164-1000685319.jpg)























