Jangan Anggap Sepele Luka Kecil Bisa Parah Akibat Infeksi, Cek Penanganannya Berikut Ini
Ketahui pencegahan infeksi yang terus-menerus disebabkan oleh mikroorganisme, termasuk virus, bakteri, dan jamur.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang juga seorang dokter aktif di media sosial, Gia Pratama Putra menjelaskan bahwa kulit adalah organ terbesar tubuh dan berfungsi sebagai benteng utama serta salah satu pintu masuk bagi mikroorganisme ke dalam tubuh. Sayangnya, banyak orang yang masih keliru dalam menangani luka kecil.
Mereka tidak hanya meremehkan, tetapi juga percaya pada mitos yang berbahaya, seperti penggunaan pasta gigi dan kopi, padahal kedua bahan tersebut tidak memiliki kandungan antiseptik yang diperlukan.
“Bahkan ganggu si kulit. Karena kulit kan harus regenerasi sel baru. Dia membelah diri si regenerasi kulit itu. Kalau keganggu sama bakteri, melebar dia,” ujar Gia setelah acara konferensi pers "#BeUnstoppable 50 Years Stories for Indonesia" yang diadakan oleh Betadine pada Selasa, 18 Agustus 2025.
Gia mengatakan bahwa luka kecil seharusnya tidak dianggap sepele. Ketika kulit terluka dan terbuka, jalur masuk kuman menjadi lebih lebar, terutama jika tidak segera ditangani dengan cara yang benar. Menurutnya, antiseptik adalah langkah pertama yang penting untuk mencegah risiko infeksi.
Untuk menangani luka, Gia menyarankan agar langkah pertama adalah membersihkan area yang terluka dengan air, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan antiseptik.
“Air itu justru tahap awal, abis itu baru pakai antiseptik. Jadi itu bukan pilihan, itu masih tahapan,” jelas Gia mengenai proses membersihkan luka.
Gunakan Cairan Infus Membersihkan Luka
Gia menjelaskan bahwa cairan infus yang digunakan dalam pengobatan juga dapat dimanfaatkan untuk membersihkan luka. Hal ini disebabkan oleh sifat isotonik dari cairan tersebut yang memiliki kandungan mirip dengan plasma darah.
"Isotonik itu mirip sama sih cairan infusannya. Maksudnya kalau luka kan tuh ada darah. Kalau dikasih itu dibersihinnya bagitu, itu steril. Ngga ada bakteri virus sama sekali. Jadi itu juga membantu bersihinnya ya. Sesudah itu baru pakai antiseptik," ungkap Gia.
Dengan demikian, penggunaan cairan infus tidak hanya terbatas pada infus, tetapi juga dapat berfungsi sebagai alternatif yang efektif dalam proses pembersihan luka.
Mikroorganisme Menginfeksi Tubuh
Gia menjelaskan bahwa setelah mikroorganisme masuk ke dalam tubuh, langkah yang perlu diambil untuk melawan infeksi adalah dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik ini harus didasarkan pada deteksi jumlah leukosit oleh tenaga medis yang kompeten. Apabila jumlah leukosit meningkat, itu menandakan bahwa tubuh sedang berjuang melawan infeksi. Leukosit, atau sel darah putih, memiliki peran penting dalam pertahanan terhadap infeksi.
"Leukosit normal kan antara 5.000 sampai 10.000. Jadi kalau pas diperiksa darah, leukositnya di atas 10.000, berarti pasukan kita lagi kelabakan tuh. Lagi butuh pasukan lebih lagi untuk ngalahin si bakteri yang berhasil masuk ke dalam darah," jelas Gia.
Selain itu, Gia juga menyatakan bahwa infeksi baik virus maupun bakteri sering kali ditandai dengan demam. Ia menggambarkan kondisi ini dengan perumpamaan memasak air keran.
"Sebenarnya demam sendiri juga ya, kayak kita tuh pengen minum air putih, cuma air putihnya abis, nggak bisa keluar karena hujan deras. Jadi kita akan rebus air yang ada di keran itu. Itu tujuannya buat matiin bakteri sama virusnya di sini. Nah, tubuh kita juga sama," tambah Gia.
Dengan perumpamaan ini, Gia menunjukkan bagaimana tubuh berusaha untuk membersihkan diri dari infeksi, mirip dengan proses memasak air untuk membunuh kuman.
Hindari mengonsumsi obat pada hari pertama demam
Gia menjelaskan bahwa ketika kulit tidak mampu mencegah bakteri masuk, tubuh akan merespons dengan meningkatkan suhu, yang mengakibatkan demam.
"Jadi kalau demam hari pertama, jangan langsung minum penurun demam. Kompres-kompres aja dulu. Minum air putih aja yang banyak dulu, gitu. Baru nanti kalau tiga hari--nggak boleh ya demam tiga hari," jelasnya.
Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan.
Selain itu, Gia menekankan pentingnya pencegahan infeksi melalui penggunaan antiseptik. "Bentuk antiseptik macem-macem kan? Ada yang salep, ada yang cair, ada yang kumur. Itu semua antiseptik," katanya.
Menurutnya, antiseptik memiliki berbagai bentuk dan fungsi yang dapat membantu mencegah infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Gia juga menjelaskan perbedaan antara virus, jamur, dan bakteri dalam menyerang tubuh. Ia menggambarkan bakteri sebagai gentleman.
"Dia itu man to man. Berantem sama leukosit kita, hadap-hadapan, dia nggak pernah nyerang sel tubuh kita. Dia ngerampok makanan yang dibutuhkan sel tubuh kita," jelasnya. Ini menunjukkan bahwa bakteri memiliki cara serangan yang berbeda dibandingkan dengan virus.
Berbeda dengan bakteri, virus memiliki cara menyerang yang lebih spesifik, seperti virus COVID-19 yang menyerang sel-sel pernapasan.
"Kalau jamur paling suka tinggalnya di daerah lembat, di mana daerah paling lembab tubuh manusia, (yaitu) mulut dan area kewanitaan," tambahnya.
Penjelasan ini memberikan wawasan mengenai cara kerja masing-masing mikroorganisme dan pentingnya memahami perbedaan tersebut untuk menjaga kesehatan.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482389/original/022761000_1769179406-153888.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5482334/original/036639300_1769174289-20260123IQ_Persija_Jakarta_vs_Madura_United__2_.JPG)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482360/original/014347500_1769176138-IMG-20260123-WA0193.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/776660/original/052966400_1417978317-Pohon-Tumbang.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482018/original/080904500_1769155010-b0db4398-038e-4906-93a8-9a8bb17baf56.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461853/original/018964400_1767478144-Barcelona_s_Dani_Olmo.jpg)













