Susu dan Gizi Anak: Seberapa Penting Peran Susu dalam Tumbuh Kembang?
Memberi susu pada anak tak selalu wajib. Ahli gizi menilai susu bukan satu-satunya sumber nutrisi penting bagi tumbuh kembang anak.

Bagi banyak orang tua, memberikan segelas susu setiap hari kepada anak dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas tumbuh kembang. Susu identik dengan tulang kuat, gigi sehat, dan tubuh yang berkembang optimal. Namun, di tengah kemajuan ilmu gizi, muncul pertanyaan penting: apakah susu benar-benar esensial bagi pertumbuhan anak, atau hanya bagian dari kebiasaan dan tradisi yang tak pernah dipertanyakan?
Masyarakat telah lama dibentuk oleh persepsi bahwa susu adalah sumber utama nutrisi penting seperti kalsium dan vitamin D. Kampanye pemasaran seperti “Got Milk?” turut memperkuat anggapan bahwa anak-anak membutuhkan susu setiap hari agar tumbuh sehat dan kuat. Namun, para ahli kini mulai menyuarakan perspektif yang lebih seimbang dan berbasis bukti ilmiah.
Menurut Dr. Joy Elion, dokter anak di University of Chicago Medicine, susu sapi bukan satu-satunya sumber nutrisi penting bagi anak-anak. “Susu bisa jadi bagian dari pola makan sehat anak, tapi bukan satu-satunya jalan,” ujarnya. Hal ini menandakan bahwa peran susu dalam pemenuhan gizi anak tidak mutlak, dan masih banyak cara lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penting dalam masa pertumbuhan.

Susu dan Manfaatnya dalam Tumbuh Kembang Anak
Sejak bayi lahir hingga usia 12 bulan, ASI atau susu formula menjadi sumber utama nutrisi, menyediakan kalori, protein, dan zat gizi penting lainnya. Karena itu, tak mengherankan jika banyak orang tua beranggapan bahwa konsumsi susu harus terus dilanjutkan dalam jumlah besar bahkan setelah anak melewati usia satu tahun.
Susu memang memiliki kandungan gizi yang sangat bermanfaat bagi anak. Dalam segelas susu terdapat lemak sehat, protein, kalsium, dan vitamin D—semua komponen penting untuk mendukung perkembangan otak, perbaikan jaringan, serta pertumbuhan tulang dan gigi. American Academy of Pediatrics menyarankan anak usia 1–5 tahun mengonsumsi sekitar 16–24 ons susu full cream per hari, dan beralih ke low-fat atau skim milk setelah usia 5 tahun.
Namun, yang perlu digarisbawahi adalah peran susu sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Artinya, jika anak tidak menyukai susu atau memiliki alergi terhadap produk susu sapi, masih ada banyak sumber makanan lain yang mampu memberikan manfaat serupa.
Risiko Konsumsi Susu Berlebihan: Ketika yang Baik Jadi Berlebihan
Meski kaya nutrisi, susu bukan tanpa risiko. Salah satu perhatian utama dari para dokter anak adalah kemungkinan terjadinya anemia defisiensi zat besi akibat konsumsi susu yang berlebihan. Anak yang terlalu banyak minum susu sering kali merasa kenyang dan kehilangan nafsu makan terhadap makanan padat yang kaya zat besi, seperti daging, sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan.
Lebih lanjut, susu dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan lain. Akibatnya, anak bisa mengalami kelelahan, lemas, hingga gangguan konsentrasi karena kekurangan zat besi yang kronis. Karena itu, batas aman konsumsi susu untuk anak di atas usia 1 tahun adalah tidak lebih dari 24 ons per hari.
Dalam kasus yang lebih ekstrem, terlalu banyak minum susu juga dapat menyebabkan konstipasi kronis dan kelebihan berat badan, terutama jika anak tidak aktif secara fisik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya berfokus pada pemberian susu, tetapi juga memastikan anak mendapatkan nutrisi dari beragam sumber makanan.

Alternatif Nutrisi: Saat Susu Bukan Pilihan Utama
Bagi anak-anak yang tidak bisa atau tidak suka mengonsumsi susu—entah karena alergi, intoleransi laktosa, atau preferensi diet tertentu—kebutuhan nutrisi masih bisa dipenuhi melalui berbagai alternatif. Produk olahan susu seperti yogurt dan keju bisa menjadi opsi yang lebih disukai anak-anak dan tetap mengandung kalsium serta protein.
Selain itu, banyak makanan non-susu yang kaya kalsium dan vitamin D. Contohnya, ikan berlemak (seperti salmon dan sarden), telur, jamur, kacang-kacangan, tahu, biji chia, serta sayuran hijau seperti bayam dan brokoli. Bahkan, kini tersedia banyak produk nabati yang difortifikasi, seperti susu kedelai, susu almond, jus jeruk, dan sereal sarapan, yang diperkaya dengan vitamin D dan kalsium.
Yang paling penting adalah memastikan anak mendapat pola makan yang bervariasi dan seimbang, serta memahami bahwa nutrisi tidak bersumber dari satu makanan saja. Pendekatan ini tidak hanya memperluas preferensi makanan anak, tetapi juga menurunkan risiko ketergantungan terhadap satu jenis makanan atau minuman tertentu.
Menggali Kembali Pandangan Tradisional tentang Susu
Pandangan bahwa susu adalah makanan wajib bagi anak telah tertanam kuat dalam budaya masyarakat. Namun, seperti banyak tradisi lain, perlu dikaji ulang dengan kacamata ilmiah. Dr. Elion menjelaskan bahwa banyak persepsi tentang pentingnya susu lebih dibentuk oleh tradisi dan kampanye pemasaran, ketimbang bukti ilmiah yang menyeluruh.
Ini bukan berarti susu harus dihindari, melainkan bahwa keputusan untuk memberi atau tidak memberi susu harus berdasarkan kebutuhan nutrisi individu anak, bukan tekanan sosial atau iklan. Misalnya, seorang anak yang sudah mendapatkan cukup kalsium dari makanan lain, tidak harus dipaksa minum susu hanya demi memenuhi ekspektasi umum.
Dengan berkembangnya pemahaman masyarakat terhadap gizi anak, semakin penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda kekurangan maupun kelebihan nutrisi. Konsultasi rutin dengan dokter anak atau ahli gizi akan sangat membantu dalam menyesuaikan asupan makanan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap anak.
Susu Adalah Pilihan, Bukan Keharusan
Susu tetap bisa menjadi bagian yang bergizi dalam menu harian anak, terutama dalam mendukung pertumbuhan tulang, otak, dan gigi. Namun, susu bukan satu-satunya sumber nutrisi dan tidak boleh dijadikan satu-satunya penopang gizi anak. Yang paling penting adalah menciptakan pola makan yang beragam, seimbang, dan sesuai usia, dengan memperhatikan porsi, frekuensi, dan kualitas makanan.
“Susu bisa jadi bagian dari pola makan sehat anak, tapi bukan satu-satunya jalan,” tegas Dr. Elion.
Dengan informasi dan kesadaran yang tepat, orang tua bisa lebih bijak dalam membuat keputusan nutrisi, menyesuaikan dengan kebutuhan anak, serta tidak terlalu khawatir jika anak tidak menyukai atau tidak bisa mengonsumsi susu. Di balik segelas susu, tersimpan banyak pelajaran tentang pentingnya gizi seimbang, pendekatan individual, dan peran aktif orang tua dalam membentuk fondasi kesehatan jangka panjang anak.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481997/original/063818900_1769153715-IMG_6014.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/thumbnails/5481981/original/052563300_1769153257-prabowo-tegas-di-wef-2026-singgung-beban-utang-rezim-dahulu-penerus-selalu-membayar-bb7829.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5404123/original/026164100_1762390990-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478784/original/010546900_1768923115-14.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481405/original/054003400_1769098173-keracunan_jamur.jpg)
















