Arkeolog Temukan Observatorium Astronomi Kuno di Mesir
Bangunan ini, yang terbuat dari batu bata lumpur dan mencakup area seluas 850 meter persegi.

Arkeolog di Mesir temukan sisa-sisa bangunan kuno di Kafr El Sheikh yang digunakan oleh masyarakat Mesir kuno untuk mengamati langit dan bintang-bintang. Bangunan ini diperkirakan berasal dari abad ke-6 SM, menjadikannya salah satu observatorium astronomi terbesar yang pernah ditemukan di Mesir.
Situs tersebut merupakan bagian dari Kuil Firaun yang berlokasi di Kota Buto. Ribuan tahun lalu, para astronom Mesir kuno memanfaatkan tempat ini untuk melacak pergerakan Matahari dan bintang-bintang. Kegiatan ini penting dalam kehidupan mereka, mulai dari menentukan waktu, mempersiapkan kalender, hingga mendukung kegiatan ritual dan keagamaan.
Melansir dari Sciencealert, Jumat (22/11), bangunan ini, yang terbuat dari batu bata lumpur dan mencakup area seluas 850 meter persegi, memiliki bentuk menyerupai huruf L. Pintu masuknya menghadap ke timur, arah terbitnya Matahari, sesuai dengan fungsi astronomisnya.
Di dalamnya, arkeolog dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menemukan berbagai artefak yang berkaitan dengan studi astronomi, termasuk sebuah jam bayangan kuno. Jam bayangan ini dirancang untuk melacak waktu dengan memanfaatkan gerakan bayangan Matahari.
Terbuat dari batu kapur sepanjang 4,8 meter, jam ini memiliki lima blok batu datar dengan garis-garis yang digunakan untuk mengukur kemiringan bayangan. Selain itu, ditemukan juga balok batu besar dan struktur melingkar yang digunakan untuk melacak pergerakan Matahari. Situs ini juga memiliki lima ruangan kecil yang diyakini digunakan untuk menyimpan peralatan observatorium.
Sementara itu, empat ruangan lain serta satu ruangan batu tampaknya berfungsi sebagai menara observatorium. Di tengah aula, juga terdapat panggung batu dengan prasasti yang menggambarkan pemandangan astronomis Matahari terbit dan terbenam selama tiga musim Mesir kuno. Selain struktur bangunan, para arkeolog juga menemukan berbagai artefak penting, seperti patung perunggu Osiris dan Nemes, patung terakota Dewa Bes, serta patung granit dari dinasti ke-26.
Artefak lainnya meliputi alat ukur, kalung menat faience, simbol keagamaan, dan meja persembahan. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana orang Mesir kuno menggunakan astronomi untuk mendukung kehidupan mereka.
Astronomi sangat penting bagi orang Mesir kuno. Mereka menggunakan kalender yang rumit untuk menandai perjalanan waktu, dan menentukan tanggal ritual keagamaan dan politik, seperti festival dan penobatan. Astronomi juga penting untuk melacak banjir tahunan Sungai Nil, pertanian, dan navigasi.
Saat ini, kita mungkin menganggap kalender sebagai hal biasa, sesuatu yang lumrah menjadi bagian dari gaya hidup kita. Namun, setidaknya sebagian dari kita harus berterima kasih kepada kerja keras dan kecerdikan para astronom Mesir kuno, sehingga kuil-kuil seperti ini masih berdiri dan kita dapat mempelajari karya mereka, ribuan tahun setelah kehidupan mereka sendiri menghilang terkubur pasir.
Reporter magnag: Nadya Nur Aulia





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)





















