Di Mana Titik Daratan Terendah di Bumi?
Laut Mati adalah titik daratan terendah di permukaan Bumi.

Ketika puncak Gunung Everest selalu disebut sebagai titik tertinggi di Bumi, jauh di Timur Tengah ada kebalikannya: Laut Mati, yang menjadi titik daratan terendah di permukaan Bumi. Garis pantainya kini tercatat sekitar 430 meter di bawah permukaan laut, menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA).
Mengutip LiveScience, Senin (14/7), meski namanya "laut", Laut Mati sebenarnya adalah danau asin yang luar biasa unik. Panjangnya sekitar 76 kilometer dan lebarnya 18 kilometer. Nama "mati" disematkan karena kadar garam sangat tinggi yang membuat hampir semua bentuk kehidupan sulit bertahan di dalam airnya.
Namun, selain fenomena air super asin yang membuat orang bisa mengapung, letak Laut Mati yang begitu rendah juga menjadi fokus para ilmuwan.
Secara geologis, Laut Mati terbentuk di sepanjang Patahan Laut Mati (Dead Sea Fault), jalur retakan sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang membentang dari Laut Merah ke pegunungan di Turki.
Jalur ini menandai batas antara Lempeng Afrika di barat dan Lempeng Arab di timur. Wilayah ini juga termasuk dalam sistem Great Rift Valley, struktur geologi raksasa yang perlahan merobek Benua Afrika menjadi dua bagian.
Peneliti kelautan dari University of Rhode Island, Rob Pockalny, menyebut Patahan Laut Mati berjenis transform, mirip dengan San Andreas Fault di California, di mana kedua sisi lempeng bergerak saling geser.
Namun kecepatannya jauh lebih lambat: sekitar 5 milimeter per tahun, hanya sepersepuluh dari San Andreas. Gerakan ini tak hanya membuat kawasan rawan gempa, tetapi juga memengaruhi bentuk cekungan Laut Mati.
Para ilmuwan telah lama mencoba menjelaskan kenapa wilayah ini menjadi sangat rendah. Salah satu penjelasan klasik adalah teori "pull-apart basin".
Dalam model ini, jika jalur patahan membelok membentuk tikungan, maka pergeseran lateral lempeng juga menarik sisi-sisi patahan saling menjauh. Ruang kosong pun terbentuk, dan sedimen kemudian mengisi cekungan yang semakin dalam.
Namun model ini bukan tanpa masalah. Ahli geofisika Zvi Ben-Avraham dari Universitas Tel Aviv mencatat bahwa Laut Mati memiliki bentuk yang lebih dalam ketimbang lebar—tidak seperti cekungan “pull-apart” biasa. Data geologi menunjukkan sedimen di lantai selatan Laut Mati mencapai ketebalan hampir 15 kilometer, padahal lebarnya hanya sekitar 10 kilometer.
Untuk itu, Ben-Avraham bersama timnya mengajukan model alternatif yang disebut “drop down basin”. Menurut skenario ini, selain gerakan geser, ada juga pemisahan vertikal saat batuan basalt besar di dasar kerak turun ke bawah sekitar 4 juta tahun lalu. Pelepasan ini menciptakan ruang lebih dalam tanpa perlu melebarkan patahan secara signifikan.
Fenomena geologi ini tidak hanya bersifat ilmiah semata, tapi juga berdampak pada kondisi sehari-hari di kawasan tersebut. Permukaan air Laut Mati terus menurun akibat penguapan tinggi dan pengambilan air dari Sungai Yordan. NASA mencatat dalam musim panas yang kering, permukaan airnya bisa turun 2–3 sentimeter per hari.
Penurunan ini juga membuat tepi garis pantai bergeser lebih jauh ke bawah permukaan laut. Selain itu, risiko geologi seperti gempa bumi tetap menjadi perhatian serius bagi penduduk di wilayah padat penduduk sekitar. Penelitian jangka panjang yang teliti sangat penting untuk memahami gerakan patahan dan memprediksi risiko bencana alam.
Laut Mati bukan hanya destinasi wisata unik tempat orang bisa terapung tanpa usaha, melainkan juga laboratorium alam untuk mempelajari proses-proses geologi Bumi yang kompleks. Dengan sejarah manusia ribuan tahun, nilai strategis, dan keunikan ilmiah, kawasan ini terus memancing rasa ingin tahu peneliti—dan dunia—untuk memahami lebih dalam bagaimana planet kita bekerja.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480103/original/031715700_1769041871-IMG_5557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482811/original/027935300_1769254413-IMG_7051.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482788/original/034488500_1769250453-G_a6Q8XbYAAsm42.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482438/original/071932200_1769206214-Inter_Milan_vs_Pisa_lagi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456635/original/096053100_1766912433-david.jpeg)






















