Penelitian Ungkap Jarak Bulan Semakin Menjauh dari Bumi Ternyata Bawa Pengaruh pada Perilaku Manusia
Apakah jarak bulan yang semakin menjauh dari Bumi berpengaruh terhadap perilaku manusia? Mari kita telusuri penjelasan ilmiahnya.

Setiap tahunnya, bulan semakin menjauh dari Bumi. Selama ini, siklus bulan dianggap berpengaruh terhadap perubahan perilaku manusia, meskipun banyak dari pandangan tersebut ditentang oleh ilmu kedokteran modern.
Namun, sebuah penelitian mengungkap fakta yang mendukung teori-teori ini. Mengutip BBC pada Kamis, 11 Desember 2025, penelitian ini dipimpin oleh psikiater asal Seattle, David Avery, yang menangani seorang pasien insinyur yang gemar memecahkan berbagai masalah.
Pasien tersebut adalah pria berusia 35 tahun yang mengalami perubahan suasana hati yang sangat ekstrem dan juga mengalami ilusi serta keinginan untuk bunuh diri.
Di samping itu, pola tidurnya sangat tidak teratur dan bervariasi. Kadang-kadang ia tidak tidur sama sekali, sementara di lain waktu ia tidur hingga 12 jam setiap malam. Sebagai seseorang yang suka memecahkan masalah, pasien ini sering mencatat pola-pola yang ia amati dan melakukan penelitian terkait kondisinya sendiri.
Avery menemukan sesuatu yang menarik dari catatan tersebut, yaitu bahwa ritme perubahan suasana hati dan pola tidurnya mirip dengan pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh siklus bulan. Meskipun tidak ada mekanisme yang jelas untuk menjelaskan hubungan ini, Avery mencatat bahwa suasana hati dan pola tidur pasien tersebut mengalami stabilisasi.
Hal ini terjadi karena selama perawatan, ia tidak hanya mendapatkan obat tetapi juga menjalani terapi cahaya.
Faktor Eksternal Dapat Mempengaruhi Perubahan Perilaku Manusia
Seorang profesor emeritus psikiatri dari National Institute of Mental Health di Amerika Serikat, Thomas Wehr, telah menerbitkan hasil penelitiannya dalam sebuah makalah. Penelitian tersebut melibatkan 17 pasien yang mengalami gangguan bipolar dengan siklus cepat. Wehr berpendapat bahwa siklus yang terlalu cepat pada pasien-pasien tersebut mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Ia menyatakan bahwa ritme yang tidak selaras dengan proses biologis dapat berkaitan dengan kepercayaan bahwa bulan memiliki dampak terhadap perilaku manusia.
Selama berabad-abad, banyak orang meyakini bahwa bulan dapat memengaruhi perilaku manusia. Kepercayaan ini melahirkan istilah 'lunacy' yang berasal dari bahasa Latin 'lunaticus', yang berarti 'terpukau oleh bulan'.
Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat filsuf Yunani, Aristoteles, dan naturalis Romawi, Pliny the Elder, yang menyebutkan bahwa kegilaan dan epilepsi disebabkan oleh bulan. Selain itu, ada anggapan bahwa perempuan lebih cenderung melahirkan saat bulan purnama.
Namun, anggapan tersebut telah dibantah karena catatan kelahiran di setiap fase bulan tidak menunjukkan konsistensi. Penelitian lain juga memberikan bukti bahwa siklus bulan dapat meningkatkan agresivitas pada pasien jiwa atau narapidana. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat kriminalitas dan insiden yang terjadi di luar ruangan ketika terpapar cahaya bulan.
Beragam Pola Tidur yang Ada
Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa individu memerlukan waktu tambahan sekitar lima menit untuk bisa tertidur dan mengalami pengurangan waktu tidur sebesar 20 menit saat bulan purnama. Meskipun mereka tidak terpapar cahaya bulan secara langsung, pengukuran aktivitas otak menunjukkan penurunan hingga 30 persen pada pola tidur mereka.
Menurut Vladyslav Vyazovskiy, seorang peneliti yang fokus pada studi tidur di Universitas Oxford, masalah utama dalam penelitian-penelitian tersebut adalah kurangnya pemantauan tidur individu secara menyeluruh selama satu siklus penuh atau dalam rentang waktu beberapa bulan. Ia menegaskan bahwa satu-satunya metode untuk membuktikan semua studi ini adalah dengan merekam individu yang sama dari waktu ke waktu selama berbagai fase bulan.
Metode ini telah diterapkan oleh Wehr dan ditiru oleh Avery. Dalam analisis ulang terhadap kondisi pasiennya, ditemukan bahwa pasien tersebut menunjukkan pola 14,8 hari atau setengah fase bulan dalam siklus suasana hatinya.
Lebih lanjut, kondisi ini didukung oleh temuan bahwa beberapa pasien mengalami gangguan suasana hati setiap 206 hari. Gangguan ini tampaknya dipengaruhi oleh siklus bulan, seperti fenomena supermoon, di mana orbit bulan berbentuk oval dan mendekat ke bumi.
Secara teoritis, cahaya bulan purnama dapat mengganggu kualitas tidur seseorang, yang pada gilirannya dapat memengaruhi suasana hati mereka. Hal ini terutama relevan bagi pasien bipolar, di mana setiap episode mereka dipengaruhi oleh ritme sirkadian atau pola tidur yang ada.
Sejalan dengan gagasan tersebut, Wehr menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, jam bangun pasien cenderung bergeser semakin larut. Sementara itu, waktu tidur mereka tetap konstan, sehingga jumlah total waktu tidur mereka berkurang secara signifikan.
Perubahan fase ini dianggap berhubungan erat dengan munculnya episode mania pada pasien. Temuan ini menyoroti pentingnya memahami hubungan antara siklus bulan dan kesehatan mental, serta bagaimana faktor eksternal dapat mempengaruhi ritme biologis individu.
Pengaruh Medan Magnetik Terhadap Ritme Sirkadian
Dalam konteks pola tidur, aktivitas matahari memiliki pengaruh yang signifikan. Paparan sinar matahari yang mengenai medan magnet bumi dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, kejang epilepsi, skizofrenia, dan gangguan mental lainnya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa individu yang terpapar medan magnet mengalami penurunan yang signifikan dalam aktivitas gelombang alfa di otak. Wehr mengemukakan teori bahwa sensor magnetik ini dihasilkan oleh protein kriptokrom, yang berperan penting dalam mengatur ritme sirkadian selama 24 jam di sel dan jaringan, termasuk otak, baik pada manusia maupun hewan.
Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kriptokrom pada manusia dan hewan memiliki perbedaan. Menurut Alex Jones, seorang ahli fisika dari National Physical Laboratory di Inggris, kriptokrom manusia tidak peka terhadap medan magnet, kecuali jika ada molekul lain yang dapat mendeteksi.
Dengan demikian, hubungan antara aktivitas matahari dan ritme sirkadian tampaknya memiliki kemungkinan yang kecil. Para peneliti terus menyelidiki keterkaitan antara fase langit, termasuk bulan dan matahari, dengan siklus perubahan perilaku manusia. Hingga saat ini, tidak ada peneliti yang membantah temuan Wehr, karena sifat bipolar dari ritme ini memiliki korelasi yang jelas terhadap gravitasi dan siklus bulan.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475812/original/099904100_1768657086-Serpihan.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432495/original/005614800_1764809441-000_86ZV73K.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462366/original/095961900_1767572953-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475849/original/036253300_1768664192-20260117_192835.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)















