12 Penyebab Utama Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai, Kenali Faktor Risikonya
Berikut penyebab darah tinggi yang utama dan perlu diwaspadai.

Darah tinggi yang juga dikenal sebagai hipertensi merupakan kondisi medis di mana tekanan darah dalam pembuluh arteri meningkat secara persisten melebihi batas normal. Secara spesifik, seseorang didiagnosis mengalami hipertensi ketika tekanan darahnya mencapai atau melebihi 130/80 mmHg.
Tekanan darah sendiri terdiri dari dua angka yang dipisahkan oleh garis miring. Angka pertama, yang disebut tekanan sistolik, menunjukkan tekanan saat jantung berkontraksi dan memompa darah. Sementara angka kedua, yang disebut tekanan diastolik, menunjukkan tekanan saat jantung berelaksasi di antara detak.
Hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga kondisi sudah parah atau bahkan menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin tekanan darah sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi.
Apa saja penyebab darah tinggi yang utama dan perlu diwaspadai? Melansir dari berbagai sumber, Senin (17/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
Gejala dan Tanda Darah Tinggi
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Banyak orang mungkin mengalami hipertensi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.
Namun, beberapa individu mungkin mengalami gejala tertentu, terutama jika tekanan darah sudah sangat tinggi atau telah berlangsung lama. Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin muncul:
- Sakit kepala, terutama di bagian belakang kepala dan terjadi di pagi hari
- Pusing atau vertigo
- Penglihatan kabur atau berkunang-kunang
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Mimisan (epistaksis)
- Mudah lelah atau kelelahan yang tidak biasa
- Detak jantung tidak teratur atau berdebar-debar (palpitasi)
- Sesak napas, terutama saat beraktivitas
- Nyeri dada
Penting untuk dicatat bahwa gejala-gejala ini tidak spesifik untuk hipertensi dan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi lain. Selain itu, tidak semua orang dengan hipertensi akan mengalami gejala-gejala ini.
Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting untuk deteksi dini hipertensi. Dalam kasus hipertensi yang sangat parah atau tidak terkontrol, gejala-gejala yang lebih serius dapat muncul, seperti:
- Kebingungan atau perubahan kesadaran
- Mual dan muntah
- Kejang
- Penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan
Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, terutama jika disertai dengan tekanan darah yang sangat tinggi (misalnya, di atas 180/120 mmHg), segera cari bantuan medis karena ini bisa menjadi tanda krisis hipertensi yang memerlukan penanganan segera.
Penyebab Utama Darah Tinggi
Penyebab darah tinggi dapat dibagi menjadi dua kategori utama: hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder. Mari kita bahas lebih detail:
1. Hipertensi Primer
Hipertensi primer, yang juga dikenal sebagai hipertensi esensial, merupakan jenis hipertensi yang paling umum, mencakup sekitar 90-95% kasus. Penyebab pastinya belum diketahui, namun beberapa faktor yang berkontribusi meliputi:
- Genetik dan riwayat keluarga
- Usia (risiko meningkat seiring bertambahnya usia)
- Gaya hidup tidak sehat (seperti pola makan buruk dan kurang aktivitas fisik)
- Stres kronis
- Obesitas
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain atau penggunaan obat-obatan tertentu. Beberapa penyebab hipertensi sekunder meliputi:
- Penyakit ginjal kronis
- Gangguan kelenjar adrenal
- Gangguan tiroid
- Sleep apnea
- Penggunaan obat-obatan tertentu (seperti pil KB, dekongestan, dan beberapa obat resep)
- Konsumsi alkohol berlebihan
Penggunaan obat-obatan terlarang
Penting untuk diingat bahwa dalam banyak kasus, hipertensi mungkin disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor tersebut. Identifikasi penyebab spesifik sangat penting untuk penanganan yang tepat dan efektif.
Faktor Risiko Hipertensi
Memahami faktor risiko hipertensi sangat penting untuk pencegahan dan manajemen kondisi ini. Beberapa faktor risiko dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup, sementara yang lain tidak dapat diubah. Berikut adalah faktor-faktor risiko utama untuk hipertensi:
1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
- Usia: Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Pria cenderung mengalami hipertensi setelah usia 45 tahun, sementara wanita setelah usia 55 tahun.
- Genetik dan Riwayat Keluarga: Jika orangtua atau saudara kandung Anda memiliki hipertensi, risiko Anda juga meningkat.
- Ras: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dari ras tertentu, seperti Afrika-Amerika, memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi.
- Jenis Kelamin: Pria cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada wanita sampai usia sekitar 65 tahun. Setelah itu, trendnya berbalik.
2. Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
- Obesitas: Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan hipertensi.
- Pola Makan Tidak Sehat: Konsumsi tinggi garam, lemak jenuh, dan rendah serat dapat meningkatkan risiko hipertensi.
- Kurang Aktivitas Fisik: Gaya hidup sedentari berkontribusi pada peningkatan risiko hipertensi.
- Konsumsi Alkohol Berlebihan: Minum alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
- Merokok: Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan kerusakan pembuluh darah.
- Stres: Stres kronis dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah.
- Kualitas Tidur Buruk: Gangguan tidur, termasuk sleep apnea, dapat meningkatkan risiko hipertensi.
- Konsumsi Kafein Berlebihan: Meskipun efeknya bervariasi pada setiap individu, konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada beberapa orang.
3. Faktor Risiko Lainnya
- Penyakit Kronis Tertentu: Beberapa kondisi medis seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, dan gangguan tiroid dapat meningkatkan risiko hipertensi.
- Penggunaan Obat-obatan Tertentu: Beberapa obat, termasuk pil KB, dekongestan, dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dapat meningkatkan tekanan darah.
- Kehamilan: Beberapa wanita mengalami peningkatan tekanan darah selama kehamilan (hipertensi gestasional).





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481543/original/024998500_1769136804-1001542045.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481384/original/056287400_1769093956-147763.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481493/original/017421000_1769135268-000_34L79R7.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5315719/original/090106300_1755168093-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__14_of_75_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481427/original/032187300_1769130251-WhatsApp_Image_2026-01-23_at_08.01.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481035/original/045466500_1769074755-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_1.04.34_PM.jpeg)























